Dilahirin Lagi?

Kata tetangga sebelah yang satu lagi, konsolasi atau kegembiraan sejati baru dialami justru ketika orang ada dalam kesepian. Sepi menguji kedalaman hati dan batin seseorang. Dalam keramaian, orang cenderung terkacaukan oleh ogoh-ogoh yang mengambil aneka macam rupa: egosentrisme, ideologi kemenangan, rasa permusuhan, tinggal dalam aneka dosa, dan sebagainya. Dalam keramaian, orang cenderung asyik dengan aneka obrolan dan guyonan bahkan mengenai kenyataan hidup rohani orang.

Keramaian dalam bacaan hari ini direpresentasikan oleh orang banyak dan para pemimpin agama. Sebagian dari mereka mengakui bahwa Yesus memang nabi yang dinantikan bangsa Israel, tetapi sebagian lagi secara lebih keras menentang pengakuan itu. Yesus benar-benar menjadi sumber pertentangan dan ia sendiri sadar bahwa aneka kata dan perbuatannya mengandung risiko kematian. Dalam keramaian, aneka suara kebenaran, yang merongrong ogoh-ogoh penguasa dan orang banyak yang sudah akrab dengan korupsi, haruslah dibungkam; kalau perlu dengan pembunuhan, yang didukung oleh kementerian pendidikan sekalipun.

Ada satu orang yang memberi kesan melawan rencana pembunuhan itu: Nikodemus. Ingat siapa dia? Iya betul, dia anggota kelompok Farisi, salah seorang pemimpin agama Yahudi yang pernah pada suatu malam gelap memenuhi rasa penasarannya datang kepada Yesus: gak ada orang yang membuat aneka tanda heran (mukjizat) kalau Allah tidak menyertainya. Penasarannya itu ditanggapi Yesus dengan pernyataan-pernyataan yang lebih membuat penasaran lagi: orang perlu lahir kembali. Lha mosok sudah umur 43 mau lahir lagi ki piye!

Lahir dari roh itu bak menghancurkan ogoh-ogoh dalam diri manusia supaya hidupnya tak dirongrong oleh aneka kekuatan entah jagad besar maupun jagad kecil yang menjauhkan orang dari konsolasi atau kebahagiaan sejati. Ini dimungkinkan oleh perjumpaan pribadi dengan Allah. Tanpa pengalaman perjumpaan dengan Allah, tanpa pengalaman akan Allah, penghancuran ogoh-ogoh itu cuma jadi formalitas dan tontonan.


HARI SABTU PRAPASKA IV B/I
21 Maret 2015

Yer 11,18-20
Yoh 7,40-53

Posting Tahun Lalu: Conspiracy against “J…..”

1 reply

  1. Mirip fenomena sekarang. Orang benar itu cobaannya timbul dari orang yg “merasa paling benar”. Sayangnya lebih banyak orang yang berdiam diri ketika ada ketidakadilan. Karena “upah di dunia” untuk membela ketidakadilan justru kesengsaraan. Jarang yang mau menyertai orang yg malang atau sesama yg menderita. Tiada syukur tanpa peduli, haleluyah saya Katholik.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s