Sepi dalam Ramai

Barangkali malah dengan perspektif Nyepi Hindu perikop Injil Yohanes hari ini bisa dipahami. Sebagaimana hari raya Nyepi didatangi turis, begitu pula perayaan hari raya paska di Yerusalem didatangi beberapa orang Yunani yang pastinya bukan penganut agama Yahudi. Mereka ini, mungkin karena mengira Filipus adalah orang Yunani (karena namanya berbau-bau Yunani), menyampaikan niat kepadanya untuk berjumpa dengan Yesus. Filipus mengatakannya kepada Andreas, dan mereka berdua menyampaikannya kepada Yesus.

Apa jawab Yesus? Dia malah omong gak jelas dan, menurut Injil Yohanes, dia bicara soal bagaimana caranya ia mati! Gimana sih, dikasih tau ada orang mau ketemu malah omong soal cara dirinya akan mati?! Ini yang dibilang tetangga saya kemarin sebagai salah sambung.

Akan tetapi, sabar-sabar dahulu. Ini Kitab Suci, Bro’. Ceritanya perlu dicerna baik-baik. Jawaban Yesus itu sebenarnya menjelaskan soal ogoh-ogoh,  yang menurut Wikipedia adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Njuk apa hubungannya dengan jawaban Yesus terhadap keinginan orang Yunani untuk menjumpainya?

Yesus sadar bahwa waktunya sudah kian dekat. Kekuatan semesta dan waktu memang tak terukur dan tak terbantahkan. Yesus tahu bahwa ia tak mungkin mengingkari kekuatan itu. Maka, tak mungkinlah memohon Allah supaya ia dibebaskan dari ‘waktu’ itu wong justru misinya itu untuk masuk dalam ‘waktu’ je.

Apa sih ‘waktu’ itu?

Mari kembali ke ogoh-ogoh. Selain wujud raksasa, dalam perkembangannya, ogoh-ogoh itu dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis, atau bahkan tokoh agama. Apakah ini dimaksudkan untuk melecehkan orang-orang terkenal itu? Tidak. Penggambaran orang terkenal sebagai ogoh-ogoh itu jadi reminder atas kekuatan semesta dan waktu tadi.

Bagaimana itu jadi reminder?

Orang Yunani itu mau menemui Yesus sebagai sosok terkenal sebagaimana artis, pemimpin dunia atau tokoh agama lainnya. Itulah kecenderungan orang banyak: mau foto bersama orang terkenal atau selfie dan mendapat tanda tangannya. Loh, apa gak boleh? Gak ada yang nglarang! Tapi untuk pengenalan sosok Yesus, itu gak cukup. Mencari tahu Yesus sebagai orang terkenal belaka akhirnya justru menempatkannya sebagai berhala.

Jawaban Yesus terhadap bodyguard-nya bukannya salah sambung, melainkan beda level pemahaman. Kalau mau berjumpa dengan Yesus, orang mesti masuk dalam misteri yang dijalani Yesus sendiri: memilih jalan yang mengakhiri dominasi kekuasaan jahat, yaitu penderitaan salib dan kematian! Itulah konsekuensi kekuatan semesta dan waktu yang bisa mengantarkan makhluk hidup menuju kebahagiaan atau kehancuran.

Tampaknya Yesus memilih kehancuran dengan kematiannya, tetapi justru dalam kematiannya nan sepi dan hening, setan tak berkutik lagi! Ia tak bisa lagi menggoda Yesus dengan harta, tahta, maupun wanita.

Karena itu, Yesus tak bisa dijumpai dalam ideologi kemenangan, kekuasaan, atau popularitas yang hiruk pikuk nan brisik. Untuk berjumpa dengan Yesus, luarnya mungkin bisa saja brisik, tetapi dalamnya mesti nyepi!


HARI MINGGU PRAPASKA V B/I
22 Maret 2015

Yer 31,31-34
Ibr 5,7-9
Yoh 12,20-33

Posting Tahun Lalu: Beriman atau Berjudi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s