Beriman atau Berjudi?

Momen dramatis Injil hari ini: Yesus berseru memanggil Lazarus untuk keluar dari kubur; orang-orang di sekelilingnya menanti-nantikan apakah Yesus yang sudah menyembuhkan banyak orang ini akan mampu membangkitkan Lazarus yang sudah mati sejak empat hari yang lalu. Tentu Yesus tahu apa yang dipertaruhkannya. Kalau Lazarus keluar dari kubur, nubuat Nabi Yehezkiel bener2 klop: Yesus ini sungguh Mesias yang diberi kuasa Allah untuk membangkitkan orang mati. Kalau Lazarus tidak keluar dari kubur, orang-orang mungkin tetap memercayainya sebagai penyembuh, tetapi bukan sebagai Mesias. Lha piye jal kalau Lazarus bener2 gak keluar dari kubur?

Di situ seolah-olah ada nuansa spekulatif: Yesus berjudi! Syukur kalau Lazarus bangkit, kalo’ enggak, ya sudah apes deh! Tetapi apa betul Yesus memanggil Lazarus dalam nuansa pertaruhan ala judi? Apakah dia sungguh2 berspekulasi dan tak punya kontrol sama sekali terhadap hal yang dipertaruhkannya seperti orang melempar dadu yang hanya pasrah pada probabilitas dan statistik?

Rupanya tidak begitu. Menurut ahli eksegese, seruan Yesus kepada Lazarus itu juga sekaligus menjadi jeritan batinnya kepada Allah sendiri. Seruan Yesus ini terdengar oleh Bapanya. Dalam arti itu, Yesus pun connect dengan faktor2 yang memungkinkan kebangkitan Lazarus: kasih Allah sendiri, iman Yesus dan iman orang di sekeliling yang memercayainya sebagai Mesias. Drama di depan makam Lazarus ini bukan momen Yesus menunjukkan keunggulan main judinya, melainkan kekuatan iman sucinya. Main judi vs iman suci, dan iman sucilah pemenangnya, mengatasi kematian.

Bagaimana bisa dipahami bahwa iman itu mengatasi kematian?
Konteks bacaan pertama bisa membantu. Yehezkiel mendapat peneguhan dengan penglihatannya bahwa tulang-tulang yang terserak itu dapat dihidupkan kembali ketika Allah memberikan nafas, memberikan roh, memberikan nyawa. Itulah yang memungkinkan orang hidup. Tak mengherankan, titik temunya ada pada bacaan kedua: yang berkenan kepada Allah adalah hidup dalam roh, bukan hidup dalam daging.

Akan tetapi, daging (sarx) dalam bahasa Santo Paulus tidak bisa dipahami semata-mata sebagai unsur material badaniah. Ia memakai kata sarx untuk menunjuk sebuah lifestyle yang menentang roh kudus. Gaya hidup bebas yang mengeliminasi gerak Roh inilah yang sebenarnya membunuh orang. Orang seperti ini tak punya relasi dengan Tuhan dan hanya bisa main judi: ada Tuhan ya syukur, kalo’ gak ada juga gak papa, yang penting sekarang hepi. Mungkin lebih besar lagi taruhan judinya: muda foya-foya, tua kaya raya, mati bahagia dan masuk surga…. puassss???

Apakah contoh sarx untuk modal judi itu tadi? Silakan mencari sendiri.


MINGGU PRAPASKA V A/2
6 April 2014

Yeh 37,12-14
Kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu… Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali...

Rm 8,8-11
Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

Yoh 11,1-45
Hari ini Gereja menyisipkan kisah yang begitu manusiawi ketika Yesus sedang menanti saat yang tepat untuk kembali ke Yudea (menyongsong konspirasi yang semakin masif terhadap diri-Nya). Pada saat inilah Yesus mendengar kabar meninggalnya Lazarus (berarti: Allah menolong), tetapi Ia tidak bisa segera melayat. Baru tiga hari kemudian Yesus tiba di TKP, dan di situlah Ia ‘mempertaruhkan’ iman-Nya kepada Bapa dan kepada orang-orang di sekeliling-Nya: Ia memohonkan kebangkitan Lazarus, ia memanggil Lazarus, dan Lazarus pun uthuk uthuk keluar dari kubur.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s