Di Mana Arwah Umat Beriman Itu?

Tak sedikit ilmuwan yang terusik untuk membuktikan adanya kehidupan setelah kematian, suatu peristiwa fisik yang bagi umat beriman merupakan misteri. Tradisi Yahudi konon meyakini bahwa orang serius baru meninggal pada hari ketiga, ketika secara definitif jiwa/roh terlepas dari raga orang. Sebelum itu, rupanya masih bisa terjadi apa saja, termasuk yang biasa dikenal sebagai mati suri. Maka dari itu, Yesus pernah dikatakan terlambat datang di makam Lazarus karena sudah tiga hari sehingga tak ada harapan untuk mengembalikannya ke dalam hidup sekarang ini.

Penelitian para ahli baru-baru ini sebetulnya juga tak mengungkapkan keyakinan baru, bahkan tidak membuktikan apa-apa mengenai hidup setelah kematian sendiri. Penelitian itu katanya membuktikan bahwa 20 menit setelah orang divonis mati, masih ada aktivitas internal yang bahkan mungkin bisa memacu orang ‘hidup kembali’ dengan bantuan autopulse dan beberapa obat yang diperlukan. Mereka belum pernah coba membuat alat yang mampu mendeteksi peristiwa kehidupan setelah orang mati selama dua hari, misalnya.

Iman bergandengan tangan dengan harapan sehingga tidak menuntut verifikasi terlebih dahulu untuk mewujudkannya dalam cinta. Maka dari itu, cinta orang beriman sudah sewajarnya tak bersyarat, “Aku mau mencinta karena menanti pahala hidup akhirat nanti.” Pahala hidup akhirat itu bisa diharapkan, tetapi tak bisa dituntut eksistensinya sebagai syarat kita untuk mencinta. Dinamika seperti ini juga terjadi sewaktu orang mengikat komitmen pernikahan: orang tak tahu, tak bisa memastikan ke depannya ada apa dengan pasangan. Karena itu, tak ada komitmen yang dibangun atas dasar kepastian, sebagaimana iman juga tidak dibangun atas dasar kepastian.

Karena itu, jika hidup setelah mati itu tak ada, harapan umat beriman tak akan sia-sia. Mari pikir pelan-pelan, kalau sewaktu hidup ia berharap ada surga/neraka dan ternyata setelah mati tak ada apa-apa, dia gak pernah tahu bahwa harapannya itu palsu, bukan? (Lha kan pengetahuannya berhenti setelah dia mati, gak ada apa-apa, termasuk pikiran dan roh atau jiwa). Akan tetapi, sebaliknya, kalau orang gak percaya bahwa ada surga/neraka dan ternyata ada hidup setelah kematian, dia jadi tahu dong bahwa kepercayaannya keliru! Kekeliruannya ini jadi kesalahan abadi.

Bacaan kedua menegaskan bahwa harapan itu tak mengecewakan, dan bacaan pertama mengatakan bahwa harapan umat beriman itu penuh kebakaan alias kekal. Harapan inilah yang menyatukan umat beriman, baik yang sekarang ini masih membutuhkan O2 maupun yang sudah jadi arwah.

Gereja Katolik hari ini mengundang umat memperingati semua arwah umat beriman: mendoakan mereka, bahkan minta doa dari mereka supaya tetap teguh dalam beriman, kuat dalam harapan, dan setia dalam cinta. Di manakah mereka? Tulangnya di makam, abunya tersebar di samudera, dan rohnya bisa ada di mana-mana. Semoga mereka mengalami terang kedamaian abadi dan tak berlama-lama dengan kegelapan (yang adalah pemurnian supaya semakin layak bagi Allah sendiri). Tentu doa seperti ini ditujukan bukan hanya untuk jiwa mereka yang sudah jadi arwah, tetapi juga untuk jiwa kita sendiri supaya bisa mencicipi terang kedamaian abadi itu.


HARI RAYA PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN
(Hari Minggu Biasa XXXI A/2)
2 November 2014

2Mak 12,43-45
1Kor 15,12-34
Yoh 6,37-40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s