Menteri-menteri Nan Suci

Dalam radius lima kilometer dari tempat saya tinggal, ada banyak nama jalan yang rupanya diambil dari nama-nama pahlawan lokal yang tak dikenal dalam skala nasional. Jangankan warga Papua, warga Togua pun belum tentu tahu sosok Sabirin dan Supadi (bahkan mereka yang bersekolah di jalan Sabirin dan berasrama di Jalan Supadi). Itu baru dua nama pahlawan. Pasti jauh lebih banyak lagi sosok pahlawan yang namanya tak tercatat dan tak dikenal.

Orang kudus yang diperingati Gereja Katolik hari ini kiranya bermula dari pengenangan atas sosok-sosok seperti itu: mereka yang menjadi martir, baik dengan darah maupun tidak. Gereja Katolik meyakini bahwa orang-orang kudus itu ada dalam persekutuan juga dengan orang-orang kudus zaman ini. Untuk memahaminya barangkali secara sederhana kita bisa memanfaatkan suatu philosophy of being. Jangan kabur dulu dari istilah filsafat itu (boleh kabur tapi cepat balik ya)!

Entah bagaimana kata being diterjemahkan, bandingkan saja dengan kata doing. Persekutuan para kudus itu, baik yang sudah mati maupun yang sekarang ini masih hidup, letaknya ada pada being, bukan doing. Artinya, ini adalah soal persekutuan being, bukan persekutuan doing. Wah… gimana gak mau kabur, satu kalimat itu aja dah bikin mumet kok!

Silakan mumet, yang penting mau pikir sedikit: doing jelas, soal orang melakukan ini itu, berkata dan bertindak begini begitu. Being itu soal adanya sesuatu atau seseorang. Kita sama-sama ada, apapun keadaan atau caranya: orang sakit-sehat, tinggi-pendek, laki-perempuan, kaya-miskin, dan sebagainya. Status ‘kudus’ tidak menyatakan kesamaan doing, melainkan kesatuan being. Halah, ngulang lagi, pateni wae ki komputernya!

Sik to….Belakangan ini kita mendengar kisah-kisah lama menteri yang baru, dan mesti diakui bahwa kisah itu menyentuh hati. Apa yang dibuat sosok itu mengarahkan perhatian orang pada kesucian hidup: pengorbanan, pelayanan, keyakinan, kemurahan hati, dan sebagainya. Kita sendiri tidak (bisa) melakukannya, tetapi kita sehati bahwa doing yang mereka buat itu menguak kualitas being holy. Hati kita setuju bahwa dalam kondisi bencana, pemilik maskapai pun tak perlu mencari untung di atas penderitaan orang lain. Hati kita setuju bahwa seorang imam bisa mempertaruhkan nyawanya demi penegakan keadilan (meskipun belum tentu kita sendiri berani melakukannya).

Begitulah, memang doing terhubung dengan being. Akan tetapi, persekutuan orang kudus pertama-tama adalah soal bahwa mereka yang bersekutu ini dipersatukan dalam being: sama-sama boleh disebut sebagai anak Allah, karena baptisan (bukan karena melakukan ini itu). Apakah doingnya berasal dari sana (being itu) atau mengarah ke sana….itu lain soal lagi.


HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS
(Hari Sabtu Biasa XXX)
1 November 2014

Why 7,2-4.9-14
1Yoh 3,1-3
Mat 5,1-12a

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s