Kemurahhatian Menuntut Pertobatan

Orang butuh konspirasi kalau tujuan agendanya buruk, jelek, jahat. Jika tak punya niat buruk, orang tak perlu konspirasi, melainkan kooperasi dengan memanfaatkan common sense dan menerapkan prinsip keadilan. Dua bacaan hari ini menyodorkan dua kisah konspirasi yang tuduhan kasusnya sama: perempuan berzinah.

Tuduhan pertama, terhadap Susana, muncul dari orang tua-tua yang ditunjuk sebagai hakim, yang hendak menutupi aib mereka dengan tuduhan palsu. Tuduhan ini, yang diterima oleh banyak orang, dibuktikan palsu oleh Daniel; Susana terbebas dari hukuman, orang tua-tua itu justru yang menanggung hukuman.

Tuduhan kedua, terhadap perempuan tanpa nama, muncul dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang hendak mencobai Yesus dengan tuduhan yang tampaknya tak bisa dibuktikan keliru; tetapi seperti kasus pertama, perempuan ini bebas dari hukuman dan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi justru kena batunya.

Kasus pertama tidak memberi komplikasi persoalan dan Daniel dengan mudah menggoyahkan tuduhan palsu (mungkin kisah ini yang menginspirasi prosedur hukum pengadilan sipil terhadap saksi hukum). Kasus kedua lebih rumit karena hukumnya sudah sedemikian jelas, tetapi dipertanyakan oleh orang-orang Farisi dan ahli taurat dalam sebuah konspirasi untuk menjebak Yesus.

Apa toh jebakannya?

  1. Kalau Yesus menegaskan hukum yang berlaku untuk merajam perempuan yang tertangkap basah berzinah, itu gak cocok dengan atribut Mesias yang disematkan padanya. Mesias mestinya menyelamatkan dong, lembut hati, membawa kabar pembebasan; mungkin juga mereka jadi punya alasan untuk menghadapkan Yesus pada pemerintah Romawi karena dengan menyetujui hukum rajam, ia menempatkan hukum Taurat di atas kuasa hukum Romawi.
  2. Kalau Yesus menolak hukum rajam (tampaknya itulah yang mereka harapkan), mereka akan menuduhnya sebagai:
    • musuh hukum Musa – merusak hukum dan kata-kata para nabi
    • kawan kaum pendosa – mendukung dosa

Bagaimana Yesus melepaskan diri dari jerat?

Pertama ia mengabaikan jerat itu, seolah-olah tak mendengar, gak ambil pusing: dia malah usak-usek dengan tanah; apa yang ditulisnya, God knows-lah. Kemudian, semakin didesak untuk menjawab pertanyaan, ia lalu membalikkan tuduhan itu, diterapkannya pada mereka yang membawa tuduhan: kalau kamu bilang orang lain berdosa dan kamu sendiri bersih dari dosa, ya sumangga habisilah si pendosa itu.

Dengan demikian, Yesus menghindari jebakan dan secara efektif ‘menyelamatkan’ reputasinya. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang hendak menuduh Yesus dengan jebakan mereka terpaksa justru menuduh diri mereka sendiri: okelah orang lain berdosa, tapi siapa sih yang berhak menghukum pendosa?

Tuduhan palsu terhadap Susana membebaskannya dari hukuman, tetapi bahkan tuduhan yang beralasan sekalipun membebaskan perempuan berzinah itu dari hukuman, bukan karena dia tidak bersalah, melainkan karena kemurahhatian Allah melampaui ukuran keadilan hukum manusia. Pokoknya, bertobatlah: terserah pergi ke mana, pokoknya pergi dan bertobatlah.

SENIN PRAPASKA V A/2

Dan 13,1-9.15-17.19-30.33-62
Yoh 8,1-11

Categories: Daily Reflection

Tagged as: , ,

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s