Some Notes on Healing (2)

Sakit dan penyembuhan dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul

Penuturan Lukas mengenai kotbah Yesus di sinagoga di Kapernaum (Luk 4,14-30) bisa menunjukkan penafsirannya terhadap penyembuhan. Mari kita lihat struktur teks yang dibaca Yesus:

A. mewartakan kabar baik kepada kaum miskin/sengsara
….B. memberitakan kebebasan bagi orang-orang tawanan
……..C. penglihatan bagi orang-orang buta
….B’ membebaskan orang-orang tertindas
A’ memberitakan tahun rahmat Tuhan

Struktur ini menunjukkan bahwa fokus pertama penyembuhan Yesus, menurut Lukas, adalah penyembuhan orang-orang buta. Yang kedua adalah mereka yang tertindas/terpenjara, dan terakhir adalah kabar baik kepada kaum miskin. Dengan kerangka itu, kisah penyembuhan Yesus bisa diletakkan dalam konteks kultural saat itu, maupun diterjemahkan dalam kepentingan masa sekarang ini.

Kebutaan

Pembaca sekarang yang mencari kutipan mengenai kebutaan fisik dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul bakal terkejut karena tak ada banyak yang bisa ditemukan. Yesus menuturkan perumpamaan tentang orang buta fisik (Luk 6,39-42), ngobrol mengenai ‘mata biologis’ pada masanya (Luk 11,33-36), dan menyembuhkan seseorang yang rupanya buta secara fisik (Luk 18,35-43). Meskipun Lukas bilang bahwa Yesus menyembuhkan banyak orang buta (Luk 7,21-22), dia cuma menyodorkan satu kisah penyembuhan orang buta! Toh dia tampak begitu menekankan bahwa kebutaan sungguh menjadi tempat sentral pelayanan Yesus (Luk 4,18; 7,21).

Jika pembaca sekarang fokus secara dangkal pada kebutaan fisik (yang memang wajar juga sih), ia akan kehilangan kebanyakan wacana Lukas mengenai kebutaan. Memang tak baik melihat hanya satu kisah seperti pada bab 18 di luar konteks tulisan lengkap Lukas (yang mencakup juga Kisah Para Rasul). Penafsir terlatih mestilah sudah membaca keseluruhan kisah dan menjadikannya sebagai kerangka umum pemaknaan.

Mengingat hal itu, gak mengherankan bahwa Paulus dikisahkan kecewa dengan orang-orang Yahudi yang berseteru dengannya (Kis 28,23-31). Lha piye jal, dari pagi sampai sore Paulus berusaha meyakinkan mereka soal Yesus, tetapi hanya sebagian yang percaya. Lalu ia menyitir Kitab Yesaya 6,9-10, yang menyoroti mereka yang melihat tapi tak pernah menangkap, dan mereka yang mendengar tapi gak pernah memahami. Mata dan hati begitu penting dalam melihat, memahami, Dengan memperhatikan hubungan antara kebutaan (Luk 4,18) dan penolakan untuk melihat dan memahami (Kis 28,23-31), awal dan akhir tulisan Lukas menunjukkan dua hal: (1) kebutaan dan penyembuhannya menjadi sentral dalam laporan Lukas, dan (2) Lukas mengajak pembaca untuk melihat tipe kebutaan yang mengatasi kebutaan fisik: kebutaan sosial dan kultural, yaitu penolakan untuk memercayai dan menerima identitas Yesus yang sesungguhnya.

Dalam terang itulah kutipan Injil Lukas dan Kisah Para Rasul mengenai kebutaan dan penglihatan bisa dijelaskan: (Luk 6,39-42; 8,4-15; 10,21-24; 11,29-32; 11,33-36; 12,54-56; 17,22-37; bdk. juga 23,8.48).

to be continued...

2 replies

  1. Pingback: A Pathway to God

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s