Tak Tahu Diuntung, Tak Bersyukur…

Kenapa apotek2 banyak menggunakan ular dan gelas/mangkuk sebagai logo? Mahasiswa farmasi semestinya punya informasi lengkap mengenai hal ini. Bacaan pertama hari ini hanya menyodorkan imaji ular [kobra?] tanpa gelas/mangkuk: patung ular tembaga dipasang di atas tiang supaya orang-orang Israel yang terpagut ular bisa bertahan hidup. Ceritanya begini. Orang-orang Israel yang baru saja mengalahkan orang-orang Kanaan itu kelelahan karena mereka tak bisa berjalan menerobos wilayah Edom. Mereka mesti berputar mengelilinginya.

Ungkapan mens sana in corpore sano barangkali bisa dimengerti dalam konteks seperti ini: dalam kondisi fisik kelelahan, mental pun bisa uring-uringan. Bangsa Israel mulai rewel, jengkel, mengeluh karena perjalanan yang seolah tak kunjung selesai dan medan yang mereka lalui tidaklah mudah. Keluhan mereka jadi hiperbolis: sudah jalan jauh dengan medan berat, gak ada air, gak ada roti! Mereka mengungkit-ungkit lagi kenapa dulu mesti keluar dari Mesir, tempat mereka bisa mencukupi makan minum, tidak seperti sesudahnya: mereka makan manna, roti dari surga yang rasanya hambar. Bosen bo’, gak enak!!!

Oalah, bangsa ini kok tidak tahu terima kasih ya seperti orang Inggris (mereka tahunya thank you). Muncullah banyak ular tedung yang menggigit mereka dan banyak yang mati. Itulah hukuman Allah atas sungut-sungut mereka dan akhirnya mereka yang bertahan hidup tersadar akan dosa mereka: melawan Allah dan Musa yang menuntun mereka. Mereka segera mohon dijauhkan dari ular-ular tedung yang mematikan itu.

Tuhan mendengar seruan mereka, tetapi tidak berarti menjauhkan ular-ular tedung itu: Ia memberikan sarana kehidupan, yaitu patung ular tembaga yang ditinggikan sehingga dari segala penjuru orang bisa melihatnya. Nah, akhirnya bergantung pada setiap orang: mau melihatnya atau tidak. Kalau ia mau melihat, ia sembuh, selamat; kalau tidak, ya mati aja! Kelihatannya gampang ya, tinggal melihat, lalu sembuh. Akan tetapi, konon, ini katanya lho ya; metode ini adalah mukjizat yang menyakitkan orang: mereka yang terkena pagutan maut ular tedung justru merasa sakit kalau melihat (patung ular) tembaga yang terang berkilau! Kalau mau buktikan sendiri silakan cari ular tedung lalu melihat tembaga berkilau. Ya mau apa lagi, Tuhan jelas tahu betul azas dan dasar hidup manusia. Ia tentu tahu bagaimana menyembuhkan umat-Nya, bahkan dengan cara yang bertentangan dengan keinginan manusia sendiri!

Cara-Nya itu sangat simbolik bagi Perjanjian Baru dan Yohanes membuat perbandingan: sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh 3,14-15). Siapa Anak Manusia itu? Sudah ditegaskan identitasnya oleh Yesus sendiri dalam bacaan Injil hari ini dan jelas konsekuensinya. Kalau orang mau percaya (yaitu melihat) pada Anak Manusia itu, tentu ia memiliki keselamatan jiwa yang kekal, bukan keselamatan yang nanti-nanti, tapi keselamatan kekal. Kalau tidak, orang hidup sebagai orang kafir dan tidak selamat: orang yang tak mau bersyukur, terus bersungut-sungut mengungkit-ungkit indahnya masa lalu dan menyerapahi keadaan sekarang…

SELASA PRAPASKA V
8 April 2014

Bil 21,4-9
Yoh 8,21-30

4 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s