Smart Life, Dumb People

Tak sedikit kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena kecerobohan pengendara. Dalam beberapa kasus bahkan orang mati hanya karena ingin mengetik satu dua huruf pada smartphone-nya: smart phone for dumb people! Apakah itu takdir? Kematiannya ya, tapi cara matinya bukan. Kematian memang tak terelakkan, tetapi bagaimana orang mengalami kematian, bergantung dari dirinya sendiri (dan orang lain juga sih). Allah tidak menginginkan orang mati dalam kedosaan. Manusialah yang menginginkannya.

Bacaan pertama mengisahkan bagaimana bangsa Israel di tengah kesusahan mereka malah bersungut-sungut, memaki-maki, mengumpat-umpat Musa (dan dengan demikian Allah sendiri: bukan karena Musa adalah Allah, melainkan karena Musa mengikuti kehendak Allah). Dalam situasi itu sebagian dari mereka mati terpagut ular berbisa. Mesakke bin kasihan, sedang asyik menggerutu dan marah, tahu-tahu mati! Tak ada kesempatan untuk bertobat lagi.

Nuansa itulah yang disampaikan Yesus kepada orang-orang Farisi dalam pertentangan yang semakin menguat. Tak henti-hentinya mereka mempertanyakan identitas Yesus tetapi tak pernah keluar dari paradigma berpikir yang picik. Mereka cuma bisa berpikir bahwa jika orang bilang “Bapa dan Aku satu” berarti ia menyamakan dirinya dengan Allah. Mereka cuma bisa mengerti bahwa “Anak Allah” adalah hujat besar, tetapi tak pernah mau melihat bahwa Allah menginginkan semua orang menjadi anak-anak-Nya (sebagaimana guru SD menerima murid-murid sebagai anak-anaknya, padahal jelas bukan). Mungkin mereka benar-benar tak mengerti keterbatasan bahasa dan sibuk untuk cari muka.

Kebebalan itulah yang menempatkan mereka dalam situasi kedosaan: tidak menerima Allah yang mahahadir. Allah hadir dalam aneka situasi, bahkan penderitaan, sakit, perang, kemiskinan. Terhadap Allah yang mahahadir ini, manusia macam orang Farisi yang berseteru dengan Yesus itu masih juga sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri. Maka, aneka problem dan kesusahan hidup ditanggapinya dengan keluh kesah, gerutu, marah-marah, cemberut, dan sejenisnya.

Mereka yang percaya pada Allah pemberi hidup menanggapi aneka kesulitan dengan senantiasa mencari apa yang lebih memuliakan Allah itu sendiri: AMDG! Betapa melegakannya saat susah, pada situasi sulit orang tetap mencari AMDG; dalam sakit AMDG, dalam masalah AMDG, dalam kesedihan AMDG, dalam sekarat pun AMDG. Betapa menyenangkan kalau bisa gitu…, tidak mati dalam kedosaan.

Tuhan, bantulah kami untuk menyatukan kesusahan hidup dalam derita-Mu di dunia. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA V
24 Maret 2015

Bil 21,4-9
Yoh 8,21-30

Posting Tahun Lalu: Tak Tahu Diuntung, Tak Bersyukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s