Hati Selektif

Ada orang yang kupingnya sangat selektif: hanya peka terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan atau ketidaksenangannya. Ini tentu tidak aneh. Pengetahuan manusia memang memiliki intensionalitas tertentu. Tidak semua hal memicu rasa penasaran, hanya hal-hal yang masuk dalam lingkup perhatiannyalah yang akan memicu dorongan untuk kepo. Akan tetapi, kuping hanyalah jalur inderawi yang memungkinkan elemen lain menangkap hal di luar diri manusia. Apa elemen itu? Hati.

Artinya, yang menentukan seseorang menanggapi stimulus dari luar adalah hatinya. Laki-laki yang hatinya cabul, melihat perempuan berpakaian sopan pun ya tetap cabul. Perempuan yang hatinya penuh dengan vanity, tidak butuh 10 sepatu pun tetap berupaya memiliki 20 pasang sepatu. Hati yang selektif membuat keputusan orang juga selektif. Ini pun tidak aneh.

Kisah perawan Maria hari ini menyodorkan hati yang selektif juga: ia mendengarkan sapaan malaikat Gabriel. Gak ngerti memang apa maksudnya sapaan malaikat itu, tetapi ia berusaha mendengarkan keterangan Gabriel. Kisah macam ini juga terjadi pada Zakharia yang menerima kabar dari Gabriel. Baik Zakharia maupun Maria memiliki hati yang selektif. Akan tetapi, selektifnya Maria rupanya lebih sinkron dengan kehendak Allah daripada Zakharia. “Bagaimana mungkin”-nya Zakharia lebih bernuansa ketidakpercayaan: bagaimana mungkin terjadi, istri uzur kok mau hamil?! “Bagaimana mungkin”-nya Maria lebih berkenaan dengan keinginannya untuk mengerti kehendak Allah. Karena itu, kabar dari malaikat Gabriel sungguh-sungguh menjadi kabar sukacita, yang hari ini dirayakan oleh Gereja Katolik.

Suka cita itu terutama diatributkan pada hati selektif Maria yang mau menjadi medium Allah sendiri untuk menjalin relasi dengan umat manusia. Maria mengambil peran yang tak bisa diambil oleh orang lain pada waktu itu. Akan tetapi, peran serupa toh masih bisa diambil orang zaman sekarang. Syaratnya: hati yang selektif terhadap hal-hal yang mengarahkan orang pada kemuliaan Allah. Kata surat kepada orang Ibrani: sungguh, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.

Konon, di mana hartamu, di situ hatimu; dan tampaknya bisa juga dibalik: di mana hatimu, di situ hartamu. Akan tetapi, tak sedikit orang yang dalam relasinya dengan Allah memegang modal mau menang sendiri: maunya harta surgawi (kebahagiaan, kedamaian, ketenangan suci), tetapi yang dikumpulkannya melulu harta duniawi. Sebagian orang punya tren yang berkebalikan: maunya harta duniawi, tetapi Tuhan dipaksanya jadi sapi perah dengan aneka doa. Kedua kelompok orang ini sama-sama pada akhirnya menyalahkan Tuhan jika keinginannya tak terpenuhi.

Kenapa? Karena tak punya paham Allah yang bekerja sama. Jawaban Maria atas warta Gabriel adalah penegasan bahwa ia mau bekerja sama dengan Allah yang hendak menyelamatkan seluruh umat manusia.


HARI RAYA KABAR SUKACITA
(Hari Rabu Prapaska V B/I)
25 Maret 2015

Yes 7,10-14; 8,10
Ibr 10,4-10
Luk 1,26-38

Posting Tahun Lalu: The Joy of Life-Giving Choice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s