Kafir tapi Mikir

Mulanya kata ‘kafir’ diterapkan bagi sekelompok orang di Mekah yang menolak dan mencaci maki (misi religius) Nabi Muhammad. Akan tetapi, perkembangan sikap Islam terhadap kelompok macam itu pada abad-abad pertama lebih bernuansa politis daripada religius. Sampai pada masa Perang Salib pun, Islam punya toleransi tinggi terhadap kelompok ‘pagan’ [perjanjian antara komunitas Kristiani dan (pengikut) Nabi Muhammad bisa saja diperdebatkan, tapi saya percaya bahwa toleransi itu sudah ada sejak awal gerakan IslamGak ada problem fanatisme religius, fundamentalisme, radikalisme].

Belakangan tampaknya sebagian orang hendak meniupkan sentimen religius demi menggembosi pemimpin kafir. Bagi mereka, masyarakat gak adil pun gapapa yang penting pemimpinnya gak kafir! Dengan kata lain, Islam mengajarkan begitu (gak adil). Trus gimana Islam mau menyangkal tuduhan agama teroris kalau mengajarkan ketidakadilan? Ini nonsense! Cuma orang yang gak mau berpikir yang membuat dalil ngawur “Lebih baik tak adil daripada kafir”! Orang macam begini diperbudak nafsu kuasa, gak mikir.

Btw, tiga konsonan untuk fikir (bahasa Indonesia: pikir) dan kafir itu mirip: fkr dan kfr. Saya buta bahasa Arab tetapi punya ensiklopedi. Fikr kurang lebih berarti refleksi, pemikiran meditatif. Dalam tradisi tasawuf, ini dikontraskan dengan apa yang disebut zikir. Kontras ini bukan soal problem mana yang benar dan salah. Keduanya saling melengkapi. Tak mungkin orang berzikir jika tak percaya kepada Allah. Tak mungkin kepercayaan itu kokoh tanpa proses fikir (bdk. St. Anselmus: fides quaerens intellectum).

Kalau orang seimbang dalam zikir dan fikir, ia jadi kaum fakir, yang hidup semata untuk Allah yang esa itu. Kata fakir bisa dilawankan dengan ghani, orang yang merasa puas diri, merdeka, tak memerlukan yang lain, entah ciptaan lain maupun Sang Pencipta. Ini dekat sekali dengan pengertian kafir, bukan? Kafir itu memblokade rahmat Allah, alias tidak mensyukuri karunia-Nya. Maka, yang kafir justru mereka yang tak mau menggunakan kapasitasnya (ciptaan Allah) untuk berzikir dan berpikir, berefleksi, untuk menemukan kebenaran Allah yang berlaku bagi semua orang.

Ada sekolah yang membedakan beberapa tipe kafir: (1) kufr al-inkar, yang tidak mengakui dan tak menerima Allah, (2) kufr al-djuhud, yang mengakui Allah tetapi tidak menerima-Nya dengan rumusan kata, (3) kufr al-mu’anada, yang mengakui dan menerima Allah dalam kata-kata, tetapi membandel tak percaya dalam tindakan karena iri hati, [sombong] dan benci, dan (4) kufr al-nifak, di luarnya tampak menerima Allah, tetapi dalam hatinya tidak mengakui-Nya, alias munafik. Kalau menilik distingsi itu, siapa coba yang bisa mengklaim diri tidak kafir?


Bacaan hari ini menyodorkan tokoh kafir, pegawai istana, yang hendak minta kesembuhan bagi anaknya. Andaikan kita datang pada divisi homecare rumah sakit untuk meminta tenaga medis ke rumah dan dijawab,”Silakan pulang, tenang saja, anak Anda sudah sembuh.” Kelihatannya kok susah ya mau percaya kata-kata itu mujarab. Tak ada alur pikir yang bisa mengarah ke sana. 

Kepada Yesus, pegawai kafir itu percaya dan alur pikirannya jelas: mengenai orang gila dari Nazaret itu ia pernah dengar soal mukjizat. Ia gak liat sendiri, tetapi kalo’ ada asap, mesti juga ada titik api dong. Kepercayaannya yang dilandasi pikiran secuil itu terkonfirmasi ketika ia di jalan pulang mendapat kabar bahwa anaknya sembuh. Pegawai ini mikir: berarti sebelum Yesus itu bilang ‘anakmu hidup’, anakku memang sudah mati, dan saat dia bilang gitu anakku hidup. Pikiran ini menguatkan kepercayaannya yang semula cuma secuil.

Repotnya, kalau orang kepercayaannya cuma secuil dan pikirannya mandheg atau mampet karena kabel atawa duit, ia mudah menganggap orang lain kafir dan dengan sendirinya malah mencoreng keluhuran agama, yang semestinya jadi pilihan pegangan hidup.

Tuhan, semoga kami tak malas berpikir dan terbuka pada jalan-jalan-Mu. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA IV
7 Maret 2016

Yes 65,17-21
Yoh 4,43-54

Posting Tahun 2015: Percaya atau Lihat Dulu?
Posting Tahun 2014: Dictum Factum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s