Kesucian Salib

Minta berkat untuk salib yang baru dibeli dari ‘toko rohani’ tentu gak susah, asal ada imam yang mau memberkatinya, urusan selesai. Apes-apesnya, berkat seperti ini jadi takhayul: salib dijadikan semacam jimat; ditaruh di atas pintu, di saku celana, di dashboard mobil, dan sebagainya. Minta berkat untuk diri sendiri pun juga bukan perkara susah, pokoknya asal ada romo yang mau memberkatinya dengan rumusan akhir tanda salib, urusan selesai. Apes-apesnya, orang membayangkan bahwa dengan berkat itu ada kekuatan ‘asing’ yang membuatnya sukses: lulus ujian, operasi lancar, tak ada masalah dalam pekerjaan baru, dan sebagainya. 

Sayangnya, efektivitas berkat terjadi justru saat orang berhadapan dengan penderitaan. Kapan berkat itu efektif? Saat penderitaan orang yang diberkati tadi ditransformasi sebagai salib, yang adalah titik nadir penderitaan sekaligus titik awal kebangkitan! Wah, gak ngerti, Romo. Pake’ bahasa yang gampang dikit napa! Bahasa yang gampang tuh yang gimana toh. Ujung paling mentok dari sakit atau penderitaan hidup manusia kan memang kematian. Setelah orang mati, gak ada lagi kesakitan fisik seperti itu (gak percaya ya silakan buktikan sendiri toh)! Yesus pun mengalami hal itu. Tapi, justru pada salib itulah Yesus mengalami transformasi luar biasa: ia menerima kematian di salib sebagai bagian dari seluruh proses keselamatan Allah, yang berwujud kebangkitan.

Nah, kesucian salib tidak pertama-tama terletak pada kekuatan gaib untuk menangkal aneka penderitaan. Kesucian salib terletak pada daya transformer tadi. Siapa yang mentransformasi? Allah dan orangnya sendiri!

Dalam bacaan pertama Allah memberi peluang umat yang digigit ular tedung untuk tetap hidup dengan cara memandang patung ular tembaga. Ceritanya bisa diklik di sini. Bacaan kedua dan Injil menegaskan bahwa perendahan Yesus di salib justru menjadi peninggian dirinya: sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3,14). Supaya apa? Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh 3,15).

*****

Penderitaan dan salib tetap jadi misteri yang bisa memicu orang mempertanyakan identitas Allah. Kisah di situs penyaliban Yesus mengawalinya: Hei, kalau kamu memang Anak Allah, turunlah dari salib, sekurang-kurangnya kamu bisa menyelamatkan dirimu sendiri dong! Ernest Hemingway menuliskan: mata yang menyaksikan kengerian kamp konsentrasi (kekejaman ISIS juga), tak bisa melihat lagi ‘suatu’ Allah. Seorang penulis Italia merumuskan dalam seloroh tokoh tulisannya: kalau Tuhan itu ada, dunia ini pasti jadi tempat Ia hunting. Nietzsche mewartakan: satu-satunya excuse bagi Allah yang punya wajah penderitaan ialah bahwa Allah itu gak ada. 

Kesucian salib tidak terletak pada kayunya, tetapi pada penyalibannya. Bagi orang Kristen (Katolik) tak ada kayu salib melompong begitu aja, ada corpus-nya: padanya ada Allah yang tersalib, yaitu Cinta sendiri.

Masih berani minta berkat?


MINGGU BIASA XXIV A/2
Pesta Salib Suci
14 September 2014

Bil 21,4-9
Flp 2,6-11

Yoh 3,13-17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s