Cinta Bukan Ngampet

Putus cinta sampai berat badan susut 10 kilo (plus bonus hati seperti tersayat-sayat sembilu) masih bisa saya bayangkan, tetapi bertunangan dengan perempuan tercinta (yang relasinya jauh lebih dalam daripada pacaran) dan tahu bahwa perempuan ini hamil padahal saya tak berbuat apa-apa, ini di luar jangkauan bayangan saya. Saya bisa mengerti bahwa Yosef mungkin krisis kepercayaan terhadap diri sendiri, Maria, bahkan juga Allah; tetapi bagaimana krisis seperti itu melanda, tak bisa saya rasa-rasakan. Barangkali ada kemarahan, kekecewaan, kebencian, dendam, frustrasi yang campur aduk dengan sembilu: maju kena, mundur kena. Setiap perasaan terhadap pihak lain justru menjadi senjata makan tuan.

Ketulusan cinta justru bukan soal berjerih payah mengikat objek cinta, melainkan soal meletakkan objek cinta itu dalam rangkulan keselamatan cinta Allah sendiri. Yosef, saking tulusnya, meskipun aneka krisis melanda dirinya, justru ingin menceraikan Maria supaya tunangannya itu tak jadi sasaran amuk massa. Aneka perasaan negatif yang berkecamuk tidak membutakan dirinya untuk mengambil langkah yang melawan ketulusan hatinya dalam mencintai Maria. Ini adalah karakter Yosef yang sudah pada dirinya baik: ia tidak membalas dengan kejahatan apa yang di depan matanya sebagai suatu kejahatan, tetapi mengusahakan kebaikan pihak lain. Itu sudah sesuatu banget bahkan kalau hal itu dilakukannya sambil ngampet (menahan aneka gejolak perasaan dan emosi dalam dirinya)!

Akan tetapi, warta malaikat membuka peluang bagi Yosef untuk bergerak ke level yang lebih dalam atau tinggi lagi. Alih-alih menceraikan Maria, Yosef diminta mengambil Maria sebagai istrinya! Ia tidak berperan dalam fabrikasi anak dari Maria dengan segala keindahannya tetapi secara psikologis dan legal dituntut bertanggung jawab atas pembangunan keluarga dan pendidikan ‘orang gila dari Nazaret’ itu.

Ketulusan hati orang semakin bernilai ketika ia melihat bukan hanya proyek pribadinya, melainkan juga misteri rencana keselamatan Allah. Orang ini tahu peran mana yang paling baik dijalankannya bagaimanapun mau diukur besar kecilnya peran itu. Di situ orang mengerti bahwa cinta tak berfokus pada bagaimana prestasi manusiawi bisa dikejar, tetapi pada bagaimana rencana keselamatan cinta Allah bisa ditebar. Yosef meresponnya secara positif, dan pilihan-pilihan yang dibuatnya tidak dilandasi oleh mekanisme ngampet, seperti orang sudah kebelet, tetapi oleh pengertian terhadap perannya dalam skenario keselamatan Tuhan.

Ya Tuhan, semoga kami semakin terbuka pada warta gembira malaikat untuk menempatkan pikiran dan tindakan kami dalam proyek rencana keselamatan-Mu sendiri. Amin.


(Hari Kamis Prapaska IV)
HARI RAYA ST YOSEF, SUAMI SP MARIA
19 Maret 2015

2Sam 7,45a.12-14a.16
Rm 4,13.16-18.22
Mat 1,16.18-21.24a

Posting Tahun Lalu: From Humiliation to Humility

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s