Dewasa Sedikitlah, Brow!

Apa emoticon yang mewakili Anda jika melihat beberapa pokok berita yang muncul di media berkenaan dengan agama: Gafatar dan orang hilang, Lia Aminuddin dan desakan penghapusan agama, Agnes Monica dengan tulisan Arab pada pakaiannya? Emoticon yang jadi wakil saya: gambar ROTFL alias rolling on the floor laughing bin ketawa sampe guling-guling di lantai. Saya tak menertawakan mereka. Saya menertawakan diri saya sebagai bagian dari dunia yang sama dengan dunia yang mereka hidupi. 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang menyembuhkan orang kusta dan peringatan kerasnya supaya orang yang sudah sembuh itu tidak woro-woro kepada siapapun selain untuk memenuhi legalitas kesembuhannya. Apa yang dibuat orang itu? Bocor, bocor, bocor. Itulah yang membuat saya tertawa: mungkin saya melakukan hal yang sama jika saya mengalami kesembuhan seperti orang kusta itu, berkoar-koar “Yesuslah penyelamatku”, “Yesus Tuhanku”, dan sejenisnya. Batin saya nyeletuk, “Kamu tuh tahu apa sih bisa-bisanya mengklaim Yesus penyelamat dan Tuhanmu?!”

Dalam strategi pemasaran, kita tahu getok [atau gethuk?] tular punya kekuatan dahsyat dan Yesus mau meredamnya! Ya gak bisalah! Eh, emangnya Yesus itu mau meredam atau melawan strategi alamiah gethuk [atau githok?] tular? Kok sepertinya bukan itu poinnya. Naif juga ya kalau dia begitu seolah-olah mengatakan,”Ssst, ini rahasia ya, jangan bilang siapa-siapa!”

Saya lebih condong mengikuti temuan ahli-ahli Kitab Suci saja: barangkali penulis Injil Markus, karena pengaruh Petrus, tidak ingin pembacanya mendekati iman demi atau karena mukjizat. Maka disodorkanlah Yesus yang tak banyak bikin mukjizat, apalagi mempromosikannya. Betapa rapuhnya jika iman diletakkan di atas fondasi mukjizat. Pada Injil Yohanes bahkan tidak disebutkan mukjizat, melainkan ‘tanda’ (Yoh 2,11). Tanda senantiasa menunjuk kepada sesuatu yang ditandakannya. Jadi, bukan tandanya sendiri yang penting, melainkan yang ditandakannya itulah yang utama. Buktikanlah pada sopir taksi; mereka takkan puas hanya dengan melihat argo menunjukkan angka 250.000 sembari melihat penumpangnya ngeloyor tanpa bayar.

Peringatan keras Yesus itu mungkin juga bisa dimengerti dengan penjelasan lain. Petrus kan rasul yang punya pengalaman kelam dalam relasinya dengan Yesus. Dialah yang menyatakan Yesus sebagai Mesias, tetapi dia juga yang menyangkal relasinya dengan Yesus sesaat sebelum Yesus disalib. Pernyataannya tidak keliru, tetapi disampaikan pada saat yang ‘keliru’, yaitu saat manis, belum mengalami saat pahit ketika Yesus mulai menderita sengsara. Ini bisa seperti orang berkoar-koar bahwa Yesus adalah penyelamat semata karena ia mengalami kesembuhan yang berbau mukjizat. Akan tetapi, itu juga bisa seperti seorang anak SD yang diajari mempertuhankan Yesus dan sampai tua pun belum pernah mengenyam apa artinya penderitaan, salib, pengorbanan.

So, sebaiknya, bahkan meskipun baru saja mengalami mukjizat, tak perlulah berkoar-koar “Yesus Mesias”, atau “Yesus penyelamatku”, atau “Yesus Tuhanku” sebelum mengenyam makna penderitaan salibnya. Kecuali: kalau kita memang masih membawa mentalitas anak SD dan menghendaki klaim-klaim itu sebagai omong kosong gombal amoh. Memang tak semua orang yang berkata “Yesus adalah Tuhan” tahu apa yang dia omongkan dan toh masih ngotot supaya orang lain mengakui “Yesus adalah Tuhan”. Mesakke…

Ya Tuhan, semoga aku mampu menghayati cinta-Mu lebih daripada kelekatan terhadap asesorisnya. Amin.


HARI KAMIS BIASA I C/2
14 Januari 2016

1Sam 4,1-11
Mrk 1,40-45

Posting Tahun Lalu: Bahayanya Mukjizat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s