Bergunakah Gagal Fokus?

Dulu sewaktu sunat, saya dibuat gagal fokus oleh juru sunat saya hanya dalam hitungan detik. Cuma ditanya bapak saya tinggal di mana dan kerja apa. Selama saya berpikir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tahu-tahu saya sudah disuruh pakai celana jeans. Sunat selesai. Ternyata, ada gunanya juga ya gagal fokus, yaitu melesapkan sakit karena tidak memperhatikannya. Begitu juga halnya teror malah tak mencapai tujuannya jika orang-orang yang diteror itu gagal fokus: alih-alih takut nyawa melayang, orang lebih takut barang dagangan hilang; alih-alih menjauhi lokasi bom, orang mendekat karena kepo dan alih-alih menyebar foto korban, orang pamer foto selfie.

Kita mungkin tidak takut, cuma deg-degan, tetapi memang kita bukanlah tujuan teror. Kalaupun ada di lokasi kejadian saat terjadi baku tembak dan granat-granatan, kita dan bahkan polisi antiteror hanyalah penari latar, yang bisa saja jadi korban. Teroris tak butuh rasa takut atau keberanian penari latar. Mereka butuh kekonyolan penari latar yang bisa memeriahkan konser mereka dan kekonyolan itu bernama gagal fokus! Kita mengira teroris gagal mencapai tujuan mereka padahal mereka berhasil menunjukkan eksistensi mereka. Tapi asudahlah, ini bukan ajang evaluasi penanganan teror kemarin.

Meskipun demikian, gagal fokus tetap relevan untuk mengabaikan Sabda Allah yang sesungguhnya. Dengan modal common sense, pemerhati teks bacaan hari ini bisa paham bahwa kesembuhan adalah asesoris cinta Tuhan kepada manusia, bukan cinta-Nya sendiri. Cinta-Nya ada pada sesuatu yang lain. Ceritanya Yesus kembali ke Kapernaum dan banyak orang berbondong-bondong datang minta kesembuhan diri sendiri atau orang lain. Saking sumpeknya, ada beberapa orang yang menggotong orang sakit dan memasukkannya ke dalam rumah melalui atap.

Tentu kondisi akhir cerita ini jelas: orang lumpuh itu sembuh, bisa berjalan lagi. Akan tetapi, konyol aja jika orang beriman menangkap kisah Kitab Suci itu sebagai breaking news sepak terjang Yesus yang jadi tabib, penyembuh, dan sejenisnya. Fokus cerita singkat itu adalah ketegangan antara Yesus dan ahli Taurat mengenai kuasa untuk mengampuni dosa. Saat orang lumpuh itu tiba, yang keluar dari mulut Yesus bukan jampi-jampi atau rapalan untuk menyembuhkan orang lumpuh itu, melainkan: dosamu sudah diampuni. Bagi Yesus, penyembuhan pada dirinya bukanlah yang utama. Maka, fokus Yesus tidak diletakkan pada penyembuhannya sendiri, melainkan pada pengampunan. Penyembuhan jadi suatu fungsi dari Sabda Allah yang pengampun. Ini klop dengan cara pikir alkitabiah bahwa badan dan roh itu tak terpisahkan, tetapi bersama-sama mengkonstruksi kesatuan harmonis dari sosok yang disebut manusia. Jadi, kesembuhan fisik hanyalah ‘tanda’ yang menunjuk sesuatu yang lebih dalam: pengampunan. Tanda ini tak lagi relevan jika orang sudah connect dengan yang ditandakannya. [Haaa…berarti agama gak relevan ya, Romo? Hmmm… apa ada yang berani klaim sudah fully-connected dengan Allah?]

Di samping itu, kita ingat kemarin Yesus memberi peringatan keras supaya orang tidak klaim-klaim omong kosong (Yesus Mesiaslah, Yesus Tuhanlah, Yesus penyelamatlah, apalah). Sekarang dia malah menyatakan bahwa Anak Manusia berkuasa untuk mengampuni dosa. Artinya, pengampunan oleh Yesus adalah ungkapan kemurahan hati, kerahiman Allah.

Ya Allah, berikanlah kami nyali untuk menampilkan wajah-Mu yang pengampun lebih daripada wajah teroris. Amin.


HARI JUMAT PEKAN BIASA C/2
15 Januari 2016

1Sam 8,4-7.10-22a
Mrk 2,1-12

Posting Tahun Lalu: Hari Gini Tuhan Masih Menghukum?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s