Batu Sandungan

Mungkinkah doa keliru? Sepertinya tidak. Kalau keliru namanya bukan lagi doa, melainkan dosa. Berdosakah orang yang memakai Kitab Suci untuk doa kontemplasi tetapi tafsirannya keliru? Kalau ya, saya mau ngaku dosa karena rupanya selama ini saya salah mengimajinasikan peristiwa dalam teks bacaan hari ini (salah terjemahannya juga sih, haha). Ceritanya, setelah Yesus mengajar, ia kembali ke tempat tinggalnya dan di perjalanan ia melihat Lewi, tukang pemungut pajak, sedang duduk di pos kerjanya. Yesus memanggil Lewi untuk mengikutinya dan Lewi berdiri lalu mengikuti Yesus. Lha kok ujug-ujug settingnya itu jadi pesta makan-makan di rumah Lewi ya?

Setelah baca-baca teks lagi dan mempertimbangkan beberapa hal, tampaknya kok lebih mungkin digambarkan makan-makan itu terjadi di tempat tinggal Yesus dan ia mengundang Lewi, dan tentu saja orang-orang lainnya, para pendosa, juga ikut. Sebelumnya saya selalu menggambarkan Yesus ini makan-makan di rumah Lewi. Ya wajar karena di teks lain disajikan kisah yang mirip dan tegas-tegas dinyatakan bahwa Lewilah yang mengadakan jamuan makan. Akan tetapi, sekarang ini saya lebih menggambarkan Lewi yang datang ke jamuan makan Yesus; bukan hal yang mustahil juga bahwa Yesus mengundang makan.

Apa sih pentingnya makan-makan di tempat Lewi atau di tempat Yesus? Sama-sama makan-makan. Ya cuma beda tuan rumah doang sih, tapi beda tuan rumah itu menentukan siapa yang mengundang. Yesus mengundang siapa saja, termasuk orang-orang yang dianggap pendosa. Undangan macam ini jelas jadi skandal bagi masyarakat Yahudi saat itu. Kemarin kita dapati konflik pertama Yesus dengan ahli Taurat soal kuasa mengampuni dosa. Hari ini dikisahkan konflik kedua lantaran Yesus satu meja dengan para pendosa. Sekali lagi, pada tahun 70an, memang ada konflik antara orang-orang pengikut Kristus yang berasal dari kelompok Yahudi dan dari golongan pagan (ateis atau politeis). Kelompok Yahudi punya kesulitan untuk duduk bersama satu meja dengan kelompok pagan (bahkan meskipun sudah sama-sama mengikuti Kristus).

Konflik-konflik macam itu dihadapi Yesus dengan pengalaman autentiknya bersama Allah yang membuka diri kepada semua orang. Saat bicara mengenai Allah, Yesus bicara juga dengan gesture dan tindakan yang klop dengan sifat-sifat Allah. Dialah yang mengundang para pendosa sebagaimana Tuhan sendiri mengundang Saul (melalui Samuel, thanks to perjalanan yang ‘tak disengaja’: cari keledai yang hilang) jadi raja meskipun ia berasal dari kaum yang termuda atau terkecil. Pertanyaan berlaku untuk semua orang beragama, kalau-kalau ada bagian dari aturannya yang mendiskreditkan orang-orang tertentu sehingga tak dimungkinkan menikmati nikmat Allah, tak dimungkinkan mendapat hidayah.

Ya Tuhan, semoga kami tak jadi batu sandungan bagi mereka yang Kauundang. Amin.


HARI SABTU PEKAN BIASA C/2
16 Januari 2016

1Sam 9,1-4.17-19;10,1a
Mrk 2,13-17

Posting Tahun Lalu: Bukan Karena Rupamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s