Islam-Islam Kok Teroris

Ini sharing daripada sharing seorang kenalan dari salah satu negara besar di Afrika yang mayoritas penduduknya muslim. Sebutlah namanya Nadia. Dia seorang muslimah yang saat itu sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Eropa, dan studi yang dia tekuni lumayan bikin parno alias paranoid: filsafat Augustinus. Memang ketertarikannya kepada filsafat Agustinus sudah menarik perhatian saya, wong dia beragama Islam kok, kenapa tidak menggumuli saja pemikir-pemikir Islam yang berjasa besar dalam sejarah pemikiran dunia.

Rasa penasaran itu mengundang pertanyaan mengenai susahnya dia mempelajari filsafat Augustinus. Hal yang paling membuat dia bergumul dengan pemikiran filsafat Augustinus ialah tulisan Augustinus soal trinitas alias ajaran keesaan Allah Tritunggal. Haiya ya ya, batin saya: jangankan kamu yang muslim, saya yang Kristen Katolik saja gak ngerti! Tetapi tampaknya dia baik-baik saja dan menyelesaikan studinya di Eropa.

Yang lebih membuka wawasan saya waktu itu ialah sharing kehidupan di negara asalnya yang jadi motif baginya untuk menempuh studi lanjut di luar. Ia tinggal di sebuah kota kecil yang asri dan menyenangkan. Menurut penuturannya nuansa kekeluargaan dan kekerabatan di kotanya itu sangat terpuji dan membuat para warganya krasan hidup di kota itu. Hidup beragama tentu saja tak diragukan lagi. Mereka pada umumnya memiliki reputasi yang baik dalam hal ibadah, termasuk perwujudannya dalam hidup bermasyarakat.

Suasana itu berakhir pada tahun 90-an ketika mulai ada warga yang diculik. Setelah penculikan itu kemudian masih ada juga pembunuhan dan agaknya kelompok penculik itu menghalalkan darah saudara sekandung, seagama, yang melawan mereka. Nadia mengungkapkan bahwa setiap petang mereka tinggal menanti rombongan truk menghampiri rumah yang mana dan dari situ mesti ada yang hilang atau dibunuh.

Suasana teror itu mengusik Nadia yang sejak kecil dididik dalam nuansa agama Islam. Mereka yang melakukan penculikan dan pembunuhan itu memakai legitimasi al-Quran, tetapi Nadia tak habis pikir bagaimana al-Quran yang sama bisa membuat orang menjadi teroris. Ini pasti ada yang tidak beres, pikir Nadia. Sejak itulah ia bercita-cita untuk mengurai ketidakberesan itu demi curiosity rohaninya maupun demi perbaikan yang dibutuhkan dalam masyarakat.

Sebelum sharing pengalaman Nadia itu, sekitar satu dekade lalu, saya kira terorisme memang lahir atas nama agama (Islam), meskipun saya tahu bahwa di belahan dunia lain juga ada kekerasan atas nama agama Katolik, Yahudi, Hindu dan Buddha. Akan tetapi, kisah Nadia meyakinkan saya bahwa jika simbol Islam bisa dianalogikan sebagai lampu merah dalam dunia lalu lintas, ada pihak tertentu yang memproduksi lensa sedemikian canggihnya sehingga orang bisa membacanya sebagai lampu hijau! Terorisme merupakan fenomena relatif baru dalam sejarah sebagai sebuah strategi yang komprehensif untuk memperoleh kekuasaan.

Semoga semakin lama strategi itu usang jika seluruh umat beriman, apapun agamanya, lebih inklusif terhadap ‘yang lain’. Benarlah amatan sebagian orang bahwa teroris, yang tak takut mati itu, jauh lebih takut terhadap kesatuan umat beriman daripada aneka perlawanan fisik. Tak hanya teroris, mereka yang fundamentalis pun akan mati kutu jika seluruh umat beriman, sekali lagi, apapun agamanya, sama-sama fokus pada esensi agama lebih daripada asesoris-asesorisnya. Maka, otokritik seperti “Islam kok teroris” bisa diterapkan juga pada agama lainnya: “Katanya Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, lha kok teroris, lha kok pakai kekerasan?!” Amin.

 

2 replies

  1. Wah Om, sy jadi ingat mantan rektor Bpk Amin Abdullah yang menggeluti Kant dibanding Gazali di Ankara, ….
    Orang meneror hakikinya tak beragama, sebab semua agama misinya menyelamatkan dunia, tp jika kata teroris dikaitkan dg politik atau agama itu yang berabe…:)

    Like