Cerai Saja, Brow!

Pagi ini saya mendapat nasihat dari seorang sohib supaya saya tidak usah percaya pada santet. Nah lo kok ujug-ujug dinasihati seperti itu ya? Sejak dulu sampai sekarang saya percaya adanya black magic, tetapi saya tak pernah mengandalkannya bagi hidup saya. Saya menangkap maksud nasihat sohib saya yang dia analogikan dengan jalur rel kereta api. Larangan percaya pada santet itu maksudnya supaya kita tak meletakkan diri pada jalur rel yang sama dengan santet. Sedangkan kepercayaan yang saya pegang itu berarti meletakkan diri pada jalur rel yang berbeda dengan santet. Kalau kita meletakkan diri sejalur dengan santet, sangat-sangat mungkin kita akan tertabrak, terlindas, diterjang oleh santet itu.

Tentu saja, itu omongan analogi ya, tak usah diambil pusing. Poinnya orang perlu cerdik ria menghadapi hal-hal macam begituan. Kalau menurut pedoman Latihan Rohani St. Ignatius dari Loyola, Roh Jahat akan menjadi semakin ganas jika orang mulai takut dan hilang ketegasan dan keberanian dalam menghadapi godaan Roh Jahat itu. Sebaliknya, Roh Jahat akan jadi lemah, lari pergi dengan godaan-godaannya kalau orang bermuka gigih menentang dan melawannya dengan agere contra (bdk. LR 325), melakukan yang berkebalikan dengan apa yang diinginkan Roh Jahat.

Begitu kiranya yang dicontohkan Yesus dalam teks bacaan hari ini. Ia menghardik sontoloyo yang pasang kuda-kuda dengan menyebut Yesus sebagai yang kudus dari Allah. Ketika Roh Jahat itu terancam, ia bisa saja lepas kendali kayak medsos menguber berita gugat cerai artis atau tokoh politis. Tapi apa mau dikata, Yesus menghardik sontoloyo itu dengan kata dan perbuatannya yang punya ‘nyawa’, tidak seperti kata dan perbuatan yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh agama gabener itu, yang membuat mereka jadi terasing dari dirinya sendiri.

Memang sih, orang terasing ketika ia tak sadar(kan) diri, karena ia tidak ada dalam harmoni dengan dirinya sendiri maupun orang lain atau hal lain: ia jadi budak dirinya sendiri, budak orang lain, atau budak dari hal lain itu. Ini tidak klop dengan maksud penciptaan manusia supaya serupa dengan gambaran Allah sendiri. Tiga tahun lalu Paus menegaskan hal ini: Kabar Suka Cita adalah sabda kehidupan; ia tidak menindas orang, sebaliknya, membebaskan mereka yang jadi budak Roh Jahat di dunia ini, semangat vanity, kelekatan terhadap uang, harga diri, sensualitas, dan sebagainya. Kabar Suka Cita tadi mengubah hati, mengubah kehidupan, mentransformasi kecenderungan dari yang jahat ke niat baik.

Tapi apa lacur, bahkan untuk membaca Kabar Gembira saja tak sedikit orang sudah merasa terpaksa je, alias tak bebas. Tak bisa cerai dari tendensi untuk memperbudak diri. Ujung-ujungnya, kata Paus Fransiskus, Kabar Baik itu mengubah hidup orang hanya ketika ia membiarkan dirinya diubah oleh-Nya. Itulah mengapa blog ini memberikan cuplikan Kabar Baik sebagai bacaan harian. Karena penulisnya percaya, yang mengubah bukan catatan atau refleksinya, melainkan Sang Sabda yang bersembunyi dalam teks, yang connect dengan hati pembacanya ketika si pembaca menceraikan dirinya dari perbudakan yang mengalienasi tadi.

Ya Allah, bantulah kami supaya semakin terbuka untuk membiarkan diri diubah oleh Sabda-Mu. Amin.


HARI SELASA BIASA I B/2
9 Januari 2018

1Sam 1,9-20
Mrk 1,21b-28

Posting Tahun A/1 2017: Pak Wibowo
Posting Tahun C/2 2016: Jangan Paksakan Hidayah! 

Posting Tahun B/1 2015: Tuhan? Gak Ada Urusan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s