Pak Wibowo

Ada yang janggal gak eaaa kalau orang mempromosikan dirinya sebagai sosok imam besar untuk seluruh negeri? Jangankan imam besar, tanpa embel-embel besar pun saya tak sampai hati mempromosikan diri bahkan meskipun dengan cara memengaruhi orang lain supaya tak tampak sebagai promosi diri, tetapi daulat rakyat. Daulat itu tak datang dari pengaruh orang lain, tetapi dari otonomi seseorang untuk memilih mana yang menurutnya baik dan tidak. Kisah yang disodorkan teks hari ini nyangkut-nyangkut soal kedaulatan ini, ketika orang banyak menilai seorang gila dari Nazaret. Mereka takjub melihat bagaimana tokoh sableng kita mengajar: penuh kuasa.

Kata kuasa inilah yang merisaukan saya. Saya curiga terjemahannya meleset, tetapi setelah saya periksa ke teks aslinya (ἐξουσίαν: exousian) kok memang betul ada nuansa kuasanya. Gak inspiratif deh kata itu, selain mengingatkan pada suatu keyakinan bahwa power tends to corrupt! Akan tetapi, itu artinya kata kuasa didekati hanya dengan satu cakrawala: kekuatan fisik, otoritas hirarkis yang dimiliki seseorang, entah bagaimana caranya hal itu dimiliki. Ada cakrawala lain yang bisa dipakai untuk memahami makna kuasa pada teks hari ini: kekuatan rohani, yang termanifestasikan dalam diri seseorang. Juga dalam ranah rohani rupanya ada hirarki seperti dilukiskan dalam bacaan pertama.

Kuasa rohani itulah yang lebih tepat dipakai untuk mengerti teks hari ini. Akan tetapi, mosok iya penulis teks ini cuma mau kasih info soal adanya kuasa rohani? Itu kan info basi? Orang ya tahu namanya ‘malas’ itu bakal ontrang-ontrang dengan ‘rajin’, yang namanya rendah hati itu bergumul dengan kesombongan, dan ‘si sumbu pendek’ terus bertengkar dengan ‘si tanpa sumbu’. Perlu pendekatan lain. Saya ingat ada dua kata Italia berkaitan dengan soal kuasa ini: autorità dan autorevolezza. Yang pertama bisa diterjemahkan dengan kata otoritas. Yang kedua bisa dipadankan dengan sifat otoritatif, atau yang dalam bahasa Indonesianya disematkan di dada polisi bernama Wibowo.

Kalau mau bergaya lebih filosofis sedikit, untuk mengerti perbedaan antara otoritas dan wibawa: otoritas lebih berkenaan dengan having, sedangkan wibawa lebih berbau-bau being. Otoritas bisa diburu dengan aneka metode, dari yang halus sampai kasar. Wibawa? Tidak. Orang bisa punya otoritas seiring dengan kenaikan pangkatnya. Wibawa? Non sequitur.

Bayangkanlah dua imaji berikut. Orang yang rajin melakukan body building menggendong atau menuntun seorang tua renta dan seorang yang kekar perkasa menendang anak remaja nan kurus kerempeng. Mana yang lebih simpatik? Yang lebih simpatik itulah yang merujuk pada wibawa. Kewibawaan termanifestasikan dalam orientasi pemilik otoritas untuk memuliakan yang tak punya otoritas.

Pada akhir tahun lalu ada pendekatan baru yang dilakukan aparat keamanan, yang jauh lebih simpatik daripada ketika aparatur negara ini menghadapi demonstrasi mahasiswa ’98. Kenapa simpatik? Karena mencerminkan dalil yang berterima bagi semua orang: kuasa mendapatkan wibawanya dari orientasi untuk melindungi mereka yang tak punya kuasa, bukan untuk show of force (yang malah menunjukkan kompleks rendah diri supaya bisa eksis). Pak Wibowo sekarang pasti gak gitu dong!

Tuhan, lindungilah bangsa kami dari predator kuasa yang menganggap negeri ini seperti barang pecah belah. Amin.


SELASA PEKAN BIASA I A/1
10 Januari 2017

Ibr 2,5-12
Mrk 1,21b-28

Posting Tahun C/2 2016: Jangan Paksakan Hidayah!
Posting Tahun B/1 2015: Tuhan? Gak Ada Urusan!

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s