Pastor Gadungan

Beberapa hari lalu beredar cerita daur ulang tentang pastor gelandangan. Ini bukan hoax alias lelucon untuk tipu-tipu loh. Memang masyarakat kita ini akrab dengan (update) status. Tak jarang saya dapati ekspresi keheranan jika bertemu umat yang (untungnya atau ruginya ya?) tahu saya ikut bersama mereka merayakan ibadat bukan sebagai imam, melainkan sebagai ‘umat biasa’. Barangkali menurut orang ini, pastor itu ya misa di altar, bareng-bareng sama romo lainnya, bukan ikut di bangku umat. Hadeeeeh… cape’ deh.

Konon pastor senior ini berjalan menuju ke tempat tugas barunya. Jumlah umatnya sekitar dua ribuan (Coba tebak gereja mana yang sekalinya ibadat yang datang dua ribuan!). Sore itu, ia datang ke gereja 30 menit lebih awal. Selama 30 menit, ia berusaha mencari tempat duduk, sembari menyapa umat yang mulai berdatangan. Cuma beberapa orang yang membalas sapaannya. Isengnya lagi, pastor ini mencoba meminta uang recehan tetapi tak ada yang mengulurkan tangan untuk memberikan uangnya (lebay juga sih). Karena tak ada tempat duduk kosong, terpaksalah ia ke kursi di deretan depan yang memang sebetulnya dimaksudkan untuk pastor ini.

Akan tetapi, para petugas melarangnya duduk di situ dan menyuruhnya ke belakang. Sambil berjalan ke belakang, ia tetap plèngah-plèngèh menyapa umat. Gak ada yang menggubrisnya, malah sebagian menatapnya dengan pandangan merendahkan atau menghakiminya. Pastor gelandangan berpakaian lusuh ini ikut ibadat sampai selesai.

Setelah ibadat selesai, diumumkan kepada umat yang hadir waktu itu pastor baru yang akan bertugas mulai esok hari. Umat bertepuk tangan dan berdiri menyambut pastor baru mereka dan berjalanlah pastor gelandangan menuju mimbar. Kontan saja [mosok nyicil] umat terkejut. Pastor ini mendekatkan mulutnya pada mikrofon [mosok microwave] dan mulai membacakan teks Kitab Suci Mat 25,31-46. Reaksi umat pada saat pembacaan teks itu tak perlu saya sampaikan di sini. Katanya sampai ada yang nangis bawang bombay gitu. Pokoknya, mereka jadi tersadar betapa Sabda Allah itu terlalu jauh dari realitas konkret hidup mereka. Yang bikin Sabda Allah itu jauh dari kenyataan hidup orang ya konsep orang sendiri yang dikotomis alias memisah-misahkan dua hal itu: Allah itu suci, gak mungkin masuk ke dunia penuh dosa; pastor itu ya tempatnya dekat tabernakel sana; kesucian itu ya di dalam tembok tempat ibadat, bukan di luar.

Maka dari itu, kalau Tuhan masuk dalam hidup yang biasa, ini pasti malah susah dan reaksi penolakan itu jadi dalil umum. Reaksi yang sama juga kelihatan dari upaya Yohanes yang hari ini dikisahkan membaptis Yesus. Dia berusaha mencegahnya. Tak layaklah dia membaptis orang suci! Apa kata Yesus? “Udahlah, John, lu kagak usah brisik. Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”

Balik ke situ lagi deh: tak usah bertele-tele dengan idealisme atau mimpi-mimpi mulia bin sopan santun nan saleh untuk menarik hati floating mass. Ini bukan pencitraan pilkada yo. Juga bukan pencitraan pastor yang masih cari-cari identitas dirinya. Yang penting, kita realisasikan kehendak Allah. Hahaha… lha itu yang susah, Dul!

Tuhan, bebaskanlah kami dari citra diri yang terlalu jauh dari-Mu. Amin.


PESTA PEMBAPTISAN TUHAN A/1
Senin, 9 Januari 2017

Yes 42,1-4.6-7
Kis 10,34-38
Mat 3,13-17

Posting Tahun C/2 2016: Pakai Barang, Cintai Orang!
Posting Tahun B/1 2015: Tuhan Kok Dibaptis!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s