Bintangku Bintangmu

Ini judul lagu zaman jebot yang masih bisa didengar via Youtube dan bisa dipakai sebagai bahan pertanyaan reflektif terhadap bagaimana orang menjalani peziarahan hidupnya di dunia fana ini tanpa kehilangan keceriaan nan fana tetapi sekaligus merengkuh kebahagiaan abadi yang begitu dirindukan orang [Kapan titiknya ini?] dari zaman baheula sampai sepanjang segala abad, baik anak-anak maupun orang tua, baik laki-laki maupun perempuan, baik pecinta hidup single maupun pembela poligami, miskin maupun kaya, entah di daerah konflik atau damai, kota atau desa, darat atau laut, air atau udara: ini bintangku, mana bintangmu? [Akhirnya ditutup dengan tanda tanya, ada titiknya.]

Cerita hari ini juga sederhana: ada orang dari Timur yang melakukan perjalanan jauh karena melihat bintang ‘aneh’ yang jadi petunjuk orientasi kerinduan batin mereka. Selidik punya selidik, ada ramalan mengenai kelahiran raja orang Yahudi [Mana ada raja lahir ya? Ada juga bayi yang lahir. Sssst! Brisik!] di Israel. Mereka datang ke wilayah Israel dan berjumpa dengan otoritas setempat, Herodes. Lha, jebulnya Herodes ini malah tak tahu menahu soal ramalan tentang kelahiran raja besar itu. Gempar dah. Bukan cuma Herodes, melainkan juga seluruh Yerusalem!

Waini, orang-orang Yerusalem ribut. Mereka memang kerap mendengar ramalan itu dan rupanya momen itu tiba. Otoritas politik kekuasaan ini sadar bahwa yang sedang dihadapinya adalah ranah agama. Maka dikumpulkannyalah seluruh ahli agama dan ketemulah detil ramalan itu. Di Betlehem!
Apa yang dibuat otoritas kekuasaan? Secara diam-diam, sembunyi-sembunyi, backstreet, ia memanggil kembali tiga peziarah dari Timur dan mencari tahu bagaimana bintang yang mereka lihat itu menuntun mereka, sembari dia katakan orientasinya atas petunjuk ahli-ahli agama supaya mereka ke Betlehem. Detil perbincangan mereka saya tak tahu. Waktu itu saya masih koreksi tugas dan ujian mahasiswa yang seabreg.

Apapun detil pembicaraan Herodes dan tiga orang dari Timur itu, bintang jadi pusat perhatian karena de facto bintang itulah yang ‘menuntun’ tiga peziarah itu. Akan tetapi, itu pasti bukan horoskop seperti judul lagu pop yang saya singgung di awal dong karena de facto mereka bertanya juga bahkan kepada otoritas politik setempat. Kalau orang beriman, apapun agamanya, mau konsisten dengan hidupnya yang adalah the path of interior knowledge, bintang pedoman itu mestilah mengatasi kepentingan otoritas politik maupun agama. Artinya, agama dan politik tak pernah bisa jadi eksklusif sebagai penentu tunggal kebenaran. Kalau itu terjadi, ‘bintang’ lenyap.

Bintang petunjuk orientasi itu mengundang orang untuk keluar dari sekat, tempurung, cangkangnya sendiri justru supaya orang semakin menemukan apa yang dirindukannya di kedalaman hati. Herodes tak keluar dari cangkang politik kekuasaannya. Ahli-ahli agamapun seperti terkena anestesi sehingga gampang ditelikung politik kekuasaan. Bintang tak jadi tuntunan kedua kelompok orang itu. Bintang jadi tuntunan untuk tiga peziarah dari Timur yang selain mendengarkan bahkan saran penguasa, juga peka terhadap gerakan batin mereka sendiri. Mereka ceria luar biasa melihat bintang, dan membatalkan niat untuk kembali ke Herodes. Mereka punya bintang dalam hati yang jauh lebih besar daripada sosok pribadi orang, entah politik atau agama.

Tuhan, semoga Engkaulah bintangku. Amin. 


HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN
Hari Anak Misioner Sedunia
Minggu, 8 Januari 2017

Yes 60,1-6
Ef 3,2-3a,5-6
Mat 2,1-12

Posting Tahun Lalu: Museum Allah
Posting Tahun 2015: Pesta Para Pencari Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s