Mau Jadi Selebriti Eaaaa…

Maaf ini curcol lagi, tapi masih ada hubungannya dengan teks bacaan hari ini sih. Dulu, sekitar 20 tahun lalu (kok sepertinya eyang ini sudah tua sekali ya, Cu’?), saat saya krisis mengalami krisis panggilan (ciyeh panggilan) hidup ini, godaan terbesar saya bukanlah keinginan untuk bekerja di perusahaan multinasional atau berwiraswasta supaya berduit banyak dan membeli apa saja yang saya inginkan. Godaan saya sangat sederhana: pulang ke tempat simbok (sebutan untuk ibu dari emak saya) dan hidup dari berladang seperti dia. Mau apa lagi? Bahagia itu memang sederhana kok: makan minum tersedia tanpa merepotkan keluarga, nonton tivi bisa, punya waktu leha-leha, udara segar bernuansa desa, pokoknya bahagiah! Mau apa lagi? Ngapain ngurusin anak orang yang belum tentu juga ngerti kalo diurusin, malah bisa jadi gagal faham atau gagal pokus? Ngapain ngikutin ideal Paulus: upahku ialah bahwa aku boleh bekerja tanpa upah? Udahlah, semua orang itu ya hidup mau cari enaknya dong. Ikuti aja tendensi itu, wong hidup ini ya cuma sekali (Ho’o po? Dari mana tau hidup ini cuma sekali? Kalo’ lu ntar jadi kodok setelah mati gimana?).

Setelah masa krisis itu saya baca teks hari ini, saya jadi malu-malu gimana gitu. Tokoh sableng kita ini de facto dicari banyak orang, punya begitu banyak followers bak selebriti, popularitasnya melejit. Apa komentarnya waktu muridnya bilang,”Sus, kamu itu selebriti loh! Semua orang mencarimu.”? Dia tak menyangkal bahwa banyak orang mencari dia, tetapi bergeming terhadap atribut selebriti itu dan mengundang murid-muridnya,”Pergi ke tempat lain aja nyuuuuk.” Supaya popularitasnya melesat? Supaya makin eksis di tempat-tempat lain? Sama sekali tidak. Idenya konsisten seperti yang dia sampaikan kepada John pembaptisnya itu: supaya kehendak Allah terealisasikan dalam hidup manusia. Memang konsekuensinya jelas, dia makin populer. Tetapi popularitas sebagai konsekuensi jelas beda dengan popularitas yang dicari-cari. Tokoh sableng kita tak mencari popularitas. Ia ingin sebanyak mungkin orang mengalami kegembiraan karena Allah yang senantiasa menyertai orang [sama sekali bukan soal mengkristenkan orang]. Itulah fokusnya, beda dengan fokus para muridnya,”Wah, sayang dong ini mumpung dah terkenal loh!”

Seperti Yesus si sableng itu, saya tak menghayati diri sebagai selebriti, tetapi ada perbedaan besar yang sangat menonjol dan membuat saya malu sendiri. Dia menepis status selebriti itu dengan tindakan aktif pergi ke tempat lain untuk menyebarkan warta gembira pembebasan bagi banyak orang. Saya menepis status selebritis itu dengan ide regresi: menarik diri, gak mau repot, gak mau bersusah payah belajar ini itu untuk ngurusin anak orang (untunglah sekarang sudah bisa ngurusin badan sendiri hahaha), dan cukup kembali ke desa hidup bahagia bersama papah mamah. Ya namanya juga krisis, jadi maklum saja saya punya pemikiran seperti itu… dua puluh tahun yang lalu.
Demikianlah curcol saya.
Syukur kepada Allah.

Tuhan, manakala kami merasa ada di ambang batas kekuatan kami, izinkan kami berseru kepada-Mu dalam kerendahan hati bahwa kami ini ‘hanya’ instrumen-Mu. Amin.


RABU BIASA I A/1
11 Januari 2017

Ibr 2,14-18
Mrk 1,29-39

Posting Tahun C/2 2016: Price Tag vs Love Tag
Posting Tahun B/1 2015: Doa yang Menyentuh Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s