Mau Opname Dong

Kesehatan itu sangat penting. Orang tahu betul ini, apalagi yang sakit gawat. Akan tetapi, kesehatan bukan segala-galanya. Saya tak ingat apakah saya pernah curcol di sini soal opname di rumah sakit. Beberapa hari yang lalu saya tertegun melewati bilik pasien IGD yang rupanya sangat kritis dan sedang dipacu jantungnya. Beberapa orang di sekeliling tempatnya berbaring melafalkan takbir dan saya ikut mendoakannya dengan keyakinan dalam batin bahwa ini memang adalah momen Allah yang mahabesar, yang mengatasi segala keinginan, ketakutan, hasrat, rencana manusia.

Saya sejak kecil benar-benar ingin mengalami opname di rumah sakit karena kelihatannya begitu enak, bisa makan roti (yang waktu saya kecil tak pernah saya memakannya). Ini alasan childish, tetapi di kemudian hari saya merasa motivasi itu berkembang dengan sikap childlike: ingin mengalami kebesaran Allah dalam situasi ambang itu. Kalau orang itu hidupnya kenyang, sehat walafiat, kaya raya, mungkin tidak sulitlah baginya menangkap kebesaran Allah. Lain soalnya kalau ia lapar, sakit, jatuh miskin. Itulah yang saya inginkan: menangkap kebesaran Allah juga ketika ada dalam keadaan lapar, sakit, jatuh miskin. Ya ya ya, tapi kalau pengin opname, itu mah keterlaluan, Rom! Ya wisnurut aja deh [toh ntar juga mungkin tiba saatnya, hahaha].

Kemarin sudah diceritakan bagaimana tokoh sableng kita dicari banyak orang, antara lain juga karena mereka memerlukan kesembuhan dari sakit yang mereka derita. Akan tetapi, kalau dia kemudian menyingkir, itu berarti tak semua orang yang mencarinya mendapat kesembuhan sebagaimana mereka inginkan. Artinya, kesehatan, betapapun penting, bukanlah segala-galanya. Kalau Allah itu hadir di dunia ini, Ia datang bukan untuk menyembuhkan badan orang, membuat sel-sel kulitnya anti penuaan, menghentikan pertumbuhan uban, dan sejenisnya. Itu rekayasa dari keinginan orang, bukan per se maksud kehadiran Allah.

Tapi, Mo, bukankah karya Allah itu juga bekerja lewat keinginan orang? Romo sendiri kan yang bilang bahwa kita itu instrumen Allah? Eaaa betul, Anda layak dapat bintang (bukan merk loh), tetapi instrumen itu bekerja menurut keinginan pemiliknya. Lha gimana cara tahunya? Wah, repot jawabnya. Orang perlu akrab dengan kata kunci desolasi dan konsolasi dalam pembedaan roh. Poinnya, juga keinginan orang sebagai instrumen Allah itu adalah tanda atau indikator ‘saja’ sehingga tak bisa langsung dicap begitu saja bahwa rekayasa gen itu melawan kehendak Allah atau cocok dengan kehendak Allah. Bukankah kita susah mengatakan bahwa Allah menghendaki kemajuan teknologi dengan melihat sekian ribu nyawa orang melayang oleh senjata otomatis atau narkoba, misalnya?

Tolok ukur kehendak Allah justru keutuhan, kesucian manusia sendiri. Rekayasa manusia bisa jadi instrumen Allah sejauh ia menandakan Kerajaan Allah di jantung kemanusiaan: ketika yang fisik itu tidak mengurung kebebasan batin orang. Begitulah, Dia datang untuk keselamatan manusia, yang tak bisa direduksi sebagai kesembuhan dari masuk angin, dari lepra, dari maag, gagal jantung, stroke, dan sebagainya. Pasien yang saya sebut di awal tadi akhirnya meninggal. Ia sudah tak punya alasan untuk terkungkung oleh jantung atau organ lainnya. Rest in peace.

Tuhan, bebaskanlah jiwa kami dari ketakutan dan kelekatan terhadap apa saja yang dapat menghancurkan raga kami. Amin.


KAMIS BIASA I A/1
12 Januari 2017

Ibr 3,7-14
Mrk 1,40-45

Posting Tahun C/2 2016: Dewasa Sedikitlah, Brow!
Posting Tahun B/1 2015: Bahayanya Mukjizat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s