Markide atawa Markibo

Kemarin begitu menerima undangan markide (mari kita demo) 121 yang serentak diadakan di seluruh Indonesia, saya segera memacu Grand Astrea saya ke Malioboro untuk sekadar melihat adik-adik kelas ini mencuatkan keprihatinan mereka terhadap persoalan bangsa ini. Entah rombongan mahasiswa dari mana, tak begitu saya perhatikan, tetapi waktu itu baru ada sekitar 30-an mahasiswa. Antusiasme saya lenyap ketika saya membaca frase dalam spanduk: rezim Jokowi. Balik kampus aja dah!
Rezim Orde Baru, saya bisa paham. Rezim Soeharto juga saya bisa mengerti. Tetapi rezim Jokowi? Rasa saya pemilihannya sebagai presiden itu konstitusional, baru dua tahun, dan anaknya jualan martabak tur menantunya bukan artis atau konglomerat. Mau bikin rezim gimana ya? Dah, markibo (mari kita bobo‘) ajalah! [Loh, mosok tidur di kampus, Rom?] Siapa tahu aksi bela rakyat bisa dilakukan dalam mimpi.

Aksi bela rakyat yang menarik saya itu malah demo yang disodorkan bacaan hari ini. Ada bau-bau anarkisnya sih karena empat orang yang tak bisa masuk ke rumah tempat Yesus mengajar itu akhirnya menaiki tangga luar rumah dan melepaskan penutup atap dan menurunkan orang lumpuh yang dibaringkan dalam tilam. Tidak dikisahkan apa relasi orang lumpuh dengan empat orang itu: teman, saudara, pembantu, atau tetangga. Pokoknya, mereka punya compassion terhadap si lumpuh dan conscience mereka menuntun mereka untuk mencari cara supaya si lumpuh bisa ketemu dengan orang gila dari Nazaret itu. Mereka tak punya competence dalam menangani kelumpuhan tetapi bisa jadi mereka sudah mencari aneka cara juga untuk membantu si lumpuh.

Saya ingin menarik perhatian kita pada empat orang ini yang menjadi mediator antara si lumpuh dan tokoh sableng kita. Mereka itu melakukan aksi ‘bela rakyat’ karena punya keterhubungan dengan si rakyat dan membuat si rakyat masuk dalam radar si tokoh sableng. Apa yang terjadi kemudian, terserah si tokoh sableng. Dalam cerita dikatakan bahwa tokoh sableng itu ‘cuma’ mengatakan bahwa dosa si lumpuh sudah diampuni, tetapi itulah akar persoalan si lumpuh. Warta pengampunan dosa ini punya kekuatan penyembuhan, dan memang akhirnya si lumpuh itu juga mengalami kesembuhan.

Jadi, dari pihak pelaku aksi ‘bela rakyat’ dibutuhkan usaha, cara, kerja, jerih payah untuk melibatkan dirinya dalam kesulitan rakyat. Modalnya tentu saja memahami sebaik-baiknya akar permasalahan kesusahan rakyat itu. Mereka tahu bahwa akar persoalan si lumpuh ini ternyata tak bisa diatasi dengan tabib-tabib biasa.

Nah, untunglah demo empat orang ini bukan demo senyap beberapa ahli Taurat di sana: demo penistaan agama! Empat orang ini menunjukkan poin penting: pengampunan dosa. Mereka tidak meminta si sableng menghentikan klaim sablengnya. Mereka tak meminta orang gila dari Nazaret ini untuk mengundurkan diri, malah menegaskan bahwa tak kelirulah mereka membawa si lumpuh kepadanya.

Ini pendapat pribadi. Kalau sekarang ini aksi bela rakyat menuntut Jokowi mundur, itu artinya malah mengkhianati rakyat, karena megaproyek Jokowi memang butuh proses panjang yang bukannya tak mungkin mendapat hambatan akut dari orang-orang haus kuasa yang bisa jadi malah merekalah sebenarnya yang sekian lama menindas rakyat. Maka, lebih baik markibo. Markide kalau Jokowi mulai terlihat korupsi dan memerintah bangsa ini dengan tangan besi. Menurut penerawangan saya, beliau tak punya kapasitas sebagai koruptor. Demo mengingatkan janji mah monggo-monggo aja, tapi kalau sampai makar… tau kan berhadapan dengan siapa?

Tuhan, bantulah kami untuk semakin peka terhadap akar persoalan bangsa kami. Amin.


JUMAT BIASA I A/1
13 Januari 2017

Ibr 4,1-5.11
Mrk 2,1-12

Posting Tahun C/2 2016: Bergunakah Gagal Fokus?
Posting Tahun B/1 2015: Hari Gini Tuhan Masih Menghukum?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s