NKRI Harga Mati

Kepada para murid kelas Pendidikan Agama dan kelas Religiositas semester gasal 2016 di tempat saya mengajar.

Ini surat terbuka. Tadinya saya mau tulis judul NKRI Price Dead, tetapi nanti saya dikira guyon, padahal mana pernah saya serius? Ini curcol doang kok. Sebagai guru saya senaaaaaang setengah mati kalau murid-murid bisa menjawab soal ujian. Salah satu kegembiraan guru ialah saat tahu bahwa materi yang disampaikannya itu ditangkap muridnya. Maunya sih semua murid dapat nilai A, tetapi apa boleh buat, untuk apa juga kita mesti membohongi kemampuan diri kita sendiri toh? Kegagalan murid mendapat nilai A juga adalah cerminan bahwa saya tidak berhasil menemukan metode jitu untuk menyampaikan ide. Sebagai tebusan kegagalan itu, saya sampaikan contong #eh… contoh kasus untuk menjawab soal (bukan contoh jawaban) ujian kemarin.

Masih ingat soal nomer DUA kemarin? Tak usah ingat-ingat nomer satu atau tiga, yang penting nomer DUA itu loh. Kalau lupa juga, ini saya ingatkan yang nomer DUA: jelaskanlah apa yang dimaksud bahwa secara logis moralitas tidak menuntut/mengandaikan/mensyaratkan agama tetapi secara psikologis moralitas bergantung pada agama.

Mungkin saya khilaf sehingga ada yang menjawab moralitas tak berhubungan dengan agama. Saya takkan sampai hati dan budi mengatakan bahwa moralitas tidak berhubungan dengan agama. Justru sebaliknya yang mau saya katakan: moralitas itu berhubungan erat sekali dengan agama sehingga saking eratnya malah sebagian orang tak bisa lagi memilah-milah antara yang logis dan yang psikologis.

Contoh yang saya sodorkan ini berkenaan dengan klausa pertama: secara logis moralitas tidak menuntut/mengandaikan agama. Ini normatif untuk NKRI, uncompromising, price dead [fixed price kali’, halah malah jualan]! Kenapa moralitas tidak mengandaikan agama? Karena NKRI memang bukan negara teokrasi [opo maneh kuwi Moooo?], maka dasarnya juga bukan agama tertentu, entah agama asli atau pendatang. Kalau moralitas ditentukan agama, yang de facto tidak cuma satu, secara logis akan terjadi konflik dan perang antaragama! Agama A maunya A, agama B inginnya B, agama C ngotot dengan C, dan seterusnya. Ini logika, tak usah berargumentasi soal minoritas-mayoritas. Ancur ya ancur negara ini kalau moralitasnya diukur oleh agama tertentu. Dengan kata lain, moralitas berdasar tatanan agama tertentu merupakan ancaman serius NKRI.

Apa contoh kasusnya? Ahok, baliho UKDW, dan baru-baru ini Camat Pajangan, mBantul. Ini sentimen agama yang berpotensi konflik. Ngeri kan kalau agama jadi pijakan untuk konstitusi masyarakat majemuk? Gak suka karena beda agama, singkirkan! Kamu Hindu, jadi gubernur Bali sana! Kamu Kristen, ya jadilah bupati di Ambon sana! Katolik ke Flores sana! Ini dagelan relokasi dong dan biaya fisik dan nonfisiknya begitu mahal padahal hanya untuk membanggakan diri sebagai korban sektarianisme, fundamentalisme, radikalisme. Sedih deh kalau orang berpendidikan jadi korban radikalisme dkk itu, tak bisa lagi membedakan antara yang logis dan psikologis. Ujung-ujungnya sakit mental, tak lagi mampu menata logika, dan bertindak hanya karena conditioning dan jadi bulan-bulanan predator kekuasaan politik yang memanfaatkan sentimen agama (juga suku, ras, golongan). 

Agama-agama perlu bahu membahu membela kemanusiaan yang diidealisasikan Pancasila. Maka, agama lain, entah mayoritas atau minoritas, tak perlu dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai partner anyaman NKRI. Agama-agama tak pernah diciptakan untuk dirinya sendiri dan begitulah juga agama di NKRI.

living-for-each-other

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s