Kapan Pangling kepada Dia?

Pernah pangling kepada seorang kawan lama? Mungkin badannya berubah jadi lebih bulat, atau rambutnya lebih stylish, dan sebagainya. Singkatnya, kita pangling karena kawan kita itu mengalami perubahan penampakan atau melakukan penyamaran. Tapi bisa juga loh kawan lama gak berubah dan kita toh pangling. Misalnya, kitanya yang gegar otak, atau sedang jatuh cinta dan banyak ngelamun, dan sebagainya.

Pada akhir tahun Gereja Katolik menawarkan bacaan dari awal tulisan Yohanes. Yohanes ini mau bilang bahwa sebenarnya Allah itu senantiasa hadir dalam ciptaan-Nya, tetapi ciptaan-Nya sendiri pangling kepada Allah mereka. Kok bisa pangling, apakah Allah berubah? Kayaknya enggak tuh, dari dulu Allah ya begitu itu orangnya, hahaaaa…. (bdk. Ibr 13,8). Berarti, yang berubah ya ciptaan-Nya sendiri. Manusia berubah dari hari ke hari karena aneka conditioning yang diterimanya (kultur, ekonomi, sosial, politik, dari institusi keluarga, pendidikan, agama, dan lain sebagainya) sehingga lapisan me lebih dominan daripada I, identitasnya sebagai ciptaan Allah.

I dan me dipakai untuk membedakan secara sederhana diri yang autentik, yang menjadi subjek, dan diri yang dikonstruksi oleh lingkungan hidup, yang menjadi objek. Saya terpaksa menerjemahkannya dengan AKU dan aku. Ini saya ilustrasikan dengan bagan sederhana berikut (lingkaran di luar AKU semuanya adalah conditioning, yaitu aku atau me):

ConditioningPada AKU saya kutipkan teks Kitab Suci, tetapi tentu bisa diganti dengan rumusan lain seturut agama dan keyakinan setiap orang; lagi-lagi, itu juga conditioning. Itu mengapa aneka conditioning perlu didialogkan, direfleksikan, dikoreksi, dikritik terus menerus supaya orang sungguh-sungguh sampai pada jati diri yang autentik, yaitu AKU. Tahunya autentik? Saat orang itu sungguh-sungguh bebas dan happy tanpa syarat sementara berziarah kembali kepada penciptanya. Kalau cuma merasa bebas dan happy tapi tidak dalam trend kembali kepada Allah, ya good bye deh!

Patokan untuk mengukurnya apa? Principle and foundation! Loh, itu kan juga conditioning. Betul, tetapi ini conditioning yang bisa dipertanggungjawabkan secara interdisipliner, dengan pendekatan filosofis, psikologi, kerohanian, sains, dan sebagainya. Gak percaya? Bukti’in aja ndiri, haaaa…. Kalau gak mau membuktikan, alamat bakal pangling pada Do’i…


HARI KETUJUH OKTAF NATAL
Rabu, 31 Desember 2014

1Yoh 2,18-21
Yoh 1,1-18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s