New Exodus

Natal sudah kelar kemarin dan masa biasa diawali dengan ritual inisiasi: pembaptisan. Sekali lagi, tak perlulah mengotakkan baptis pada agama Kristen karena jauh hari sebelum ada agama Kristen itu ya sudah ada pembaptisan dan Yesus pun dibaptis di Sungai Yordan. Itu indikasi jelas bahwa Yesus tidak beragama Kristen atau Katolik. Tak perlu mempersoalkannya. Yang penting, mari lihat apa yang bisa dipelajari dari peristiwa ini dan untuk itu saya cuplik saja apa yang disampaikan oleh seorang tetangga ahli.

Katanya sudah sejak abad ke-4 Masehi, orang-orang Bizantin membangun gereja dengan dua menara di lokasi tempat Yohanes membaptis orang Israel di sungai Yordan. Gereja itu ada di sebelah timur sungai. Kenapa toh penting banget itu sungai Yordan? Karena memang dulu sungai itu dilihat sebagai batas antara tanah perbudakan (Mesir) dan tanah kebebasan (tanah terjanji). Sewaktu orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir, mereka menyeberangi sungai Yordan dipimpin oleh Yoshua, nama yang serumpun dengan Yesus, di tempat Yohanes ini membaptis.

Yohanes membaptis di sisi timur sungai Yordan, seakan-akan memanggil mereka yang di sisi barat untuk masuk ke tanah kebebasan, tanah terjanji. Akan tetapi, Yohanes menegaskan bahwa diperlukan Yoshua yang baru karena tanah terjanji itu bukan lagi sebidang tanah entah di barat atau timur Yordan, yang de facto sampai zaman now itu ya jadi sengketa politis Israel dan Palestina (yang merembet ke mana-mana). Diperlukan exodus baru, bukan ke tanah material, melainkan tanah kerajaan Allah, yang tak lain adalah hati orang sendiri.

Jadi ceritanya Yohanes ini menunjukkan kepada orang-orang bagaimana dia membaptis dan bagaimana Yoshua baru itu membaptis. Dia membaptis dengan air, yang berarti datang dari luar, entah dengan menenggelamkan orang atau memercikkan atau menuangkan air ke kepala orang, terserah. Itu untuk menandakan orang punya niat baik untuk berubah, untuk hidup baru, untuk menatap ke depan dalam peziarahan hidupnya. Akan tetapi, nenek saya pun tahu, niat baik saja tidak cukup! Orang perlu mawas diri sungguh jika niat baik ternyata ujungnya ancur, karena niat baik bukan segala-galanya, tidak menghalalkan segala pilihan yang diambilnya.

Yohanes mengatakan bahwa Yesus membaptis dengan Roh Kudus. Lha, gimana mbayanginnya tuh? Ia tidak memberi ritual baru untuk membaptis, juga tidak menyodorkan aturan baru untuk hidup baik karena kalau begitu, ya sama saja ujung-ujungnya memberi sesuatu dari luar diri seseorang. Sudah banyak aturan moral disodorkan para pendahulu dan penerusnya. Yesus hendak memantik hati orang supaya dari kedalamannya muncul kekuatan internal yang mengalirkan cinta Allah sendiri. Ini pasti bukan soal roman-romanan, melainkan soal keterpautan hati dengan Sang Khalik, yang senantiasa dirindukan makhluk-Nya, yang memungkinkan orang berziarah melampaui suka duka hidupnya.

Saya tidak ingin menjelek-jelekkan baptisan Yohanes tentu saja, apalagi meremehkan hukum moral yang sudah dibuat sejak ribuan tahun lalu. Akan tetapi, karena Yohanes sadar diri, ia menunjukkan bahwa ada tiga hal yang jauh lebih berguna bagi transformasi hidup ritual yang dilakukannya bagi banyak orang: (1) hati, (2) hati, dan (3) hati. Romo sehat? Amin.


PESTA PEMBAPTISAN TUHAN B/2
Senin, 8 Januari 2018

Yes 55,1-11
1Yoh 5,1-9
Mrk 1,7-11

Posting Tahun A/1 2017: Pastor Gadungan
Posting Tahun C/2 2016: Pakai Barang, Cintai Orang 
Posting Tahun B/1 2015: Tuhan Kok Dibaptis!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s