Hidayah AMDG

Sejak masih muda, saya dilatih untuk menghayati apa yang diistilahkan sebagai intentio recta, intensi murni, apa yang memang diperlukan, tak lebih tak kurang. Tak ada yang namanya ngobrol ngopi-ngopi (kecuali memang waktunya diintensikan untuk ngobrol ngopi-ngopi). Pokoknya apa perlunya saja, to the point, tak usah bertele-tele. Mungkin ini juga yang dihayati oleh orang majus dalam bacaan hari ini. Mereka datang pada bayi Yesus, yang oleh orang Kristen diyakini sebagai insan kamil, dan tak berlama-lama di situ, mereka pulang tanpa mampir ke tempat Herodes. 

Sering hidayah datang hanya dalam hitungan sepersekian detik, beberapa menit, atau jam, dan orientasi hidup seseorang berubah, semangat hidupnya menggelora, arah hidupnya sedemikian jelas, dan sebagainya. Bisa jadi orang Katolik mengalaminya pada saat satu menit di hadapan tabernakel, atau orang Buddhis memperolehnya saat berhadapan dengan pengemis di jalan, atau orang Islam di saat berjalan untuk melempar jumroh, dan sebagainya. Akan tetapi, tentu saja, hidayah itu tak kunjung tiba ketika orang masih teguh dengan agenda pribadinya untuk memperluas gurita korupsinya sedemikian rupa sehingga aneka pengalaman tadi cuma jadi ritual, doa pun jadi politis, dan kesalehan jadi begitu formal.

Itu yang ditunjukkan kisah dalam sosok Herodes, yang tak mendapat hidayah justru karena hanya mengandalkan pengetahuan dari imam kepala dan ahli Kitab Suci Yahudi tentang di mana Mesias dilahirkan. Dia pikir pengetahuan agama cukup untuk mengantarnya ke hadapan Mesias. Ya mau apa lagi, beda dengan orang majus yang membaca gerak alam, mendeteksinya dengan gerak batin, dan mengikutinya dengan langkah kaki. Herodes cuma berhenti pada tahap pertama: mengundang ahli untuk memuaskan pengetahuannya, meminta ahli tafsir untuk mencocok-cocokkan tafsirannya dengan agenda kekuasaannya, dan sudah berhenti di situ.

Betapa menggembirakannya kalau koruptor-koruptor tercinta itu mengikuti jejak orang majus daripada Herodes. Akan tetapi, harapan macam itu tentu tinggal jadi isapan jempol mereka yang bukan koruptor. Itu murni urusan yang bersangkutan dengan Pemberi Hidayah. Di tahun politik ini, kiranya lebih realistis mengharapkan supaya orang-orang beragama benar-benar terampil membedakan ritual dari yang substansial. Bukan maksudnya supaya orang beragama menghapus ritual, melainkan supaya mereka melandasi yang ritual itu dengan pengalaman substansial untuk berjumpa dengan Allah. Kalau tidak, bisa-bisa tidak jadi dua periode, hahaha.

Saya selalu terkesan pada saudara-saudara Muslim yang setia pada shalat lima waktu, sebagaimana saya terkesan pada saudara-saudara Katolik yang menyempatkan mampir ke depan tabernakel di sela istirahat kerjanya, atau mereka yang memberi waktu sejenak untuk bertafakur, atau membaca blog ini [haaaaaahahaha…. Ge eRnyaaaa]. Pada momen-momen seperti itu bukannya tak mungkin diterima hidayah sehingga keterarahan hidup orang terjaga: ad maiorem Dei gloriam.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami semakin lebih mengutamakan hidayah-Mu daripada iming-iming atau janji-janji politik tanpa dasar. Amin. 


HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN
Hari Anak Misioner Sedunia
Minggu, 7 Januari 2018

Yes 60,1-6
Ef 3,2-3a,5-6
Mat 2,1-12

Posting 2017: Bintangku Bintangmu
Posting 2016: Museum Allah
Posting 2015: Pesta Para Pencari Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s