Sang Penari Latar

Kadang kala suatu lagu menjadi menarik karena ada backing vocal yang mengiringi penyanyinya. Demikian juga halnya dengan gerak dan lagu. Penampilan gerak penyanyi menjadi indah justru karena ada penari latar yang menyertainya. Tariannya sendiri bisa dibuat sinkron, kontras, harmonis, atau bagaimanalah mau diistilahkan. Saya bukan koreografer, tetapi saya yakin koreografi yang baik memperhatikan keseluruhan pertunjukan. Dalam musik, cantus firmus bisa tetap terdengar meskipun alunan nada lain berseliweran ke sana kemari. Tentu saja, semakin dangkal kesadaran orang akan hal itu, semakin gampanglah ia gagal fokus sehingga kehilangan cantus firmusnya. 

Kalau gagal fokusnya ‘cuma’ dalam menyimak gerak dan lagu mungkin ya gak parah-parah amat akibatnya. Pada kenyataannya, gagal fokus itu terjadi dalam ranah yang lebih luas, yaitu kehidupan ini sendiri. Akibatnya memang ancur ya ancur: orang memilih pemimpin bukan berdasarkan kompetensi leadership, melainkan atas dasar sentimen agama; orang menghidupi agama bukan atas dasar kecintaan kepada insan kamil, melainkan atas dorongan gelojoh nafsu politik kekuasaan; orang mendalami hidup beragama bukannya dengan memperkuat hidup batin, melainkan dengan memperkokoh asesoris agama (pakaian, ritual, kuantitas pengikut, rumah ibadat, dan sejenisnya)!

Saya tak ingat persis siapa yang mengatakan (mungkin Gus Dur, Cak Nun, atau Pak Ahmad Tohari): agama itu urusan dapur! Yang pantas disajikan adalah olahannya, bukan dapurnya dibawa-bawa ke ruang tamu.
Celakanya, kebanyakan orang beragama justru seakan tak mengerti hal itu karena matanya silau oleh harta dan kekuasaan. Agama dijadikan tameng untuk apa saja sehingga hidup seolah-olah urusan agama belaka. Akibatnya, agama dipandang sedemikian penting, mengalahkan cantus firmus yang semestinya meresapi hidup ini: Kristus, Insan Kamil, yang sudah disinggung kemarin.

Bacaan-bacaan hari ini jelas menunjukkan legitimasi ilahi terhadap sosok Yesus dari Nazaret. Itu dari luar tampak sebagai klaim subjektif bahwa dia adalah Anak Allah, yang pengertiannya juga tidak bisa diletakkan dalam kultur bahasa Indonesia. Bagaimana Yesus ini mau melakukan verifikasi bahwa dia, seperti orang-orang lainnya, adalah Anak Allah yang dikasihi secara khusus? Ya dengan hidupnya sendiri, yang dibaktikan kepada Allah dan terlihat jelas dalam orientasinya untuk memberikan diri kepada sesama manusia: menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, mengusir roh jahat, dan seterusnya.

Sejauh saya mengamati seluruh teks, sepertinya tak ada kesan bahwa si Yesus ini menyombongkan agamanya, status Anak Allahnya, kemampuannya menyembuhkan orang. Ia meletakkan itu semua sebagai background dari seluruh sepak terjang pekerjaannya. Pokoknya, yang penting, orang-orang yang dibantunya itu pada gilirannya sampai pada pengakuan akan Kristus: menghidupi ke-Kristus-an, mengupayakan kualitas insan kamil, menyucikan aneka kehidupan profan, dan seterusnya. Penyucian ini tidak dilakukan dengan memperkeras identitas asesoris, tetapi dengan hidup yang terarah kepada Yang Lain, yang bisa berarti maslahat, bonum commune, dan sejenisnya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin mengerti bagaimana tarian-Mu, bukan agama kami, dapat dinikmati semakin banyak orang. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Sabtu, 6 Januari 2018

1Yoh 5,5-13
Mrk 1,7-11

Posting 2017: Kepada Tantenya Aku Berkenan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s