Kepada Tantenya Aku Berkenan

Beberapa hari lalu diberitakan suatu Komunitas Bumi Datar ngangsu kawruh alias menimba ilmu dari seorang profesor di LAPAN. Kalau merasa diri selo dan mau menonton videonya, bisa klik link ini, tetapi saya sarankan gak usah. Saya tak bermaksud menistakan curiosity komunitas pemegang keyakinan bumi datar itu, tetapi rasa saya, curiosity pun perlu dikritisi dari mana datangnya dan apa kepentingan tersembunyinya. Ini memang perdebatan lama dan tegangan itu menyisakan ketidakpuasan pihak yang merasa diri ‘kalah’.

Saya belajar dari Gereja Katolik yang mengalami rongrongan para filsuf ketika punya otoritas dalam sains. Maklum, waktu itu kebenaran ilmu pengetahuan mesti diukur dengan Kitab Suci. Gereja Katolik bahkan sempat mengekskomunikasi [tidak sama dengan memenjarakan] tokoh penyokong heliosentrisme sebelum kemudian meralatnya karena orang Gereja mulai terbuka wawasannya. Wawasan apa? Wawasan bahwa Kitab Suci tidak bisa semata dimengerti secara literal atau letterleijk.

Teks yang disodorkan hari ini memuat unsur gagasan bumi datar juga loh. Kosmologi orang dulu kalau digambarkan kurang lebih seperti di bawah ini.

Nah, dalam bacaan hari ini dikatakan bahwa pada saat Yesus keluar dari air untuk pembaptisannya, ia melihat langit terkoyak dan Roh seperti burung merpati turun ke atasnya. ‘Langit terkoyak’ menurut orang dulu ya seperti pada gambar itu. Ada lubang-lubang di langit yang bisa buka tutup, bisa terkoyak dan darinya nongol air hujan, roti atau Roh tadi. Sekarang ini Gereja Katolik tidak memegang asumsi geosentris bahkan meskipun Kitab Suci mengindikasikan bahwa bumi adalah pusat semesta. Ada cara lain untuk membaca Kitab Suci, bukan cuma cara literal.

Celakanya, adaaaa aja gerombolan yang maunya membaca Kitab Suci (dan kitab lainnya) dengan pendekatan literal belaka sehingga tak ada kebaruan dalam hidupnya. Kenapa gak move on? Karena terkungkung konteks yang disodorkan penulis Kitab Sucinya dulu. Lha memangnya gimana menangkap kebaruan yang disodorkan teks yang dari dulu tulisannya gak berubah itu? Eaaa… kalau mau puyeng silakan pelajari hermeneutika dan lebih komplet lagi pakailah teks Kitab Suci itu untuk berdoa, bukan malah untuk jadi pijakan mendebat para saintis!

Kembali ke teks hari ini. Apa yang baru ya? Hmm… mari kontemplasikan kisahnya. Yesus dibaptis Yohanes, begitu keluar dari air, ia melihat langit terbuka dan Roh turun ke atasnya. Siapa yang melihat? Yesus. Pada teks lain diindikasikan bahwa Yohanes juga melihatnya. Jadi katakanlah cuma mereka berdua yang melihat dan mendengar suara itu. Ini masuk akal. Kalau orang banyak melihat kejadian itu, pasti heboh dong, dan orang tak perlu lagi menunggu Yesus bikin mukjizat untuk menyatakan siapa dirinya!

Persis di situlah poinnya. Identitas Yesus dinyatakan, tetapi tersembunyi bagi banyak orang. Identitas apa? Anak yang dikasihi Allah. Apakah itu eksklusif identitas Yesus? Sama sekali tidak! Itu identitas semua orang, apapun agamanya. Problemnya, identitas itu dinyatakan secara tersembunyi, tak dilihat atau didengar oleh dunia ini. Tidak gampang menguak identitas tersembunyi itu karena diandaikan orang menghayati hidup kekal, hidup kebermaknaan, seperti dicatat bacaan pertama. Itu Pé Èrngerti bahwa dicintai Allah dan ngerti bagaimana mencintai-Nya lewat semesta ini, entah bulat atau jajaran genjang!

Tuhan, mohon penyertaan-Mu supaya kami senantiasa merealisasikan identitas sebagai anak-anak yang Kaukasihi. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Jumat, 6 Januari 2017

1Yoh 5,5-13
Mrk 1,7-11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s