Come and See Again

Saya punya teman dosen senior yang sontoloyo (kata ini juga kerap diucapkannya). Dia mengundang para mahasiswanya untuk datang ke rumah dan mahasiswa bertanya,”Ada acara apa?” Dosen ini tak memberikan keterangan mengenai acaranya,”Come and see!” Jawabnya dengan bahasa Inggris. Maklumlah, ia setudi lama di negeri Fitsa Hats yang lagi ngehits itu. Jawaban itu rupanya tak memberi antusiasme dalam diri para mahasiswanya. Yang ikut bersama dosen senior ini cuma tiga gelintir mahasiswa. Tiba di rumah dosen ini, mereka dijamu makan dan setelahnya bisa memetik buah-buahan di pekarangan rumah dosen itu. Mereka tak mendapat jawaban mengapa dosen ini menjamu para mahasiswa padahal tak ada yang berulang tahun, tak ada perayaan apa-apa. Anyway, pokoknya mereka senang-senang ajalah dapat makan gratis gituloh.

Jawaban ditemukan sebulan kemudian. Dosen ini mengundang para mahasiswa lagi ke rumahnya dan pertanyaan serupa dilontarkan,”Ada apa?” Jawabannya juga sama,”Come and see!” Akan tetapi, tiga gelintir mahasiswa yang ingat peristiwa sebulan sebelumnya itu memberi keterangan tambahan,”Ayo ikut aja, kita makan-makan nih.” Terjadilah. Delapan mahasiswa/i jadi rombongan piknik yang disopiri sendiri oleh dosen ini. Setibanya di rumah dosen itu, mereka dimintai tolong untuk angkut-angkut meja kursi dan menatanya di pendopo sebelah yang akan dipakai untuk acara malam harinya. Sontoloyo, bukan? [Memang sih akhirnya mereka makan-makan juga.]

Bacaan kedua hari ini melanjutkan kisah panggilan murid pertama Yesus. Kemarin Yesuslah yang mengatakan “Come and see” dan hari ini yang mengatakan “Come and see” adalah murid lain yang sudah terlebih dahulu mengikuti Yesus, Filipus. Ia mengundang Natanael dan jawaban “Come and see” ia sodorkan atas pertanyaan yang bernada-nada bullying atau penistaan kota Nazaret,”Mana ada sih hal yang baik dari Nazaret?” Ini pertanyaan yang wajar karena Natanael ini begitu akrab dengan Kitab Suci dan dia tahu betul bahwa Nazaret tak terhitung sebagai tempat penting, tak pernah disebut dalam Kitab Suci.

Menarik: frase come and see bisa dikatakan oleh orang yang sama dengan tujuan berbeda, tetapi juga bisa dikatakan oleh orang yang berbeda dengan tujuan yang sama. Yang kedua tampaknya lebih inspiratif. Mengenai keilahian, mengenai kerohanian, mengenai kesejatian hidup, tentang kebenaran hidup, tak ada jawaban selain ‘come and see‘ kepada mereka yang skeptis. Orang mesti datang dan melihat dengan mata kepala dan mata hatinya sendiri sebelum ia bisa berurusan dengan Kebenaran. Kalau tidak, alias kalau cuma bermodal kebencian, kegaduhan, okol, kekerasan, manipulasi, kepentingan pribadi, ia ada dalam bahaya saksi dusta dan itu bisa kena pasal loh. Ironis, kan? Maksud hati mengalahkan orang lain, karena kesaksiannya palsu, malah memberikan salam dua jari kemenangan kepada yang bersangkutan. Kasihan kalau sampai begitu. Fitsa mana fitsa!

Tuhan, bantulah kami untuk senantiasa berpegang pada kebenaran yang Kautanamkan dalam hati kami. Amin.


HARI BIASA MASA NATAL
Kamis, 5 Januari 2017

1Yoh 3,11-21
Yoh 1,43-51

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s