Galau Forever

Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan saya pada rumusan doa serenity yang konon ditulis oleh Reinhold Neibuhr yang bunyinya begini:
God, grant me the serenity to accept the things I cannot change.
Courage to change the things I can.
And wisdom to know the difference.

Maksud doa permohonan itu jelas: semoga orang semakin lapang dada, legowo, berbesar hati terhadap hal-hal yang meskipun mungkin tidak bikin hati sreg tetapi memang tak bisa diubah. Menerima sejarah hidup misalnya. Mau nolak gimana jal? Lahir di dusun, bermata sipit dengan etnis tertentu, berkelamin tertentu, keluarga tak tentu (loh…), bertemu orang geje, tertimpa pohon sampai mesti amputasi, diputus pacar karena orang ketiga, dan sebagainya. Kalau hati tak serene, bawaannya bete terus terhadap diri sendiri (dan akibatnya apa saja di sekitarnya dikritik, diprotes, dikeluhkan, dan sejenisnya).

Akan tetapi, bisa jadi di antara hal yang telah terjadi itu, arahnya masih bisa diubah; cuma bisa jadi orang sudah kadung alias telanjur takut untuk mengubahnya. Dalam psikologi massa misalnya, orang bisa takut bersuara karena mayoritas berkata lain. Tak usah mayoritaslah, bahkan dalam hubungan antara dua orang pun bisa jadi yang satu lebih dominan dan yang lainnya takut untuk menyuarakan sesuatu yang berbeda. Akan tetapi, bisa jadi yang semula takut ini akhirnya malah sedemikian berani sehingga malah memberontak gak karuan dan jadi lebay sehingga bahkan yang tak perlu diubah pun diubahnya. Pada kasus bunuh diri, misalnya, bisa dilihat bagaimana ketakutan seseorang berubah jadi kenekadan dan habislah hidupnya.

Jadi, yang lebih penting rupanya bukan soal berani mengubah atau legowo menerima hal yang tak bisa diubah, melainkan kebijaksanaan yang memungkinkan orang tahu mana yang memang perlu diubah dan mana yang tak perlu diubah. Itu susah Brow.

Bacaan pertama menunjukkan kesusahan itu sudah ada dalam diri orang sendiri: maunya begini dan gak mau begitu tapi justru begitulah yang dilakukan. Bacaan kedua menunjukkan kesusahan orang untuk mengelola pengetahuan mengenai dunia eksternal: brilian membaca hukum fisik, tapi plonga-plongo mengenai apa yang ada di balik hukum fisik itu. Lagi, ini bukan perkara gampang. Maka wajarlah orang berdoa memohon rahmat kebijaksanaan untuk mengadakan pembedaan zaman, present time, mana yang membawa ke arah konsolatif dan mana yang mengarahkan orang ke hidup desolatif.

Ya Allah, mohon kejernihan hati dan budi supaya kami mampu move on dari segala kekhawatiran hidup ini. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXIX A/1
27 Oktober 2017

Rm 7,8-25a
Luk 12,54-59

Jumat Biasa XXIX C/2 2016: Asisten Garengpung
Jumat Biasa XXIX B/1 2015: Kangen Matahari
Jumat Biasa XXIX A/2 2014: Satu Iman Banyak Agama

2 replies

    • Om HPI yang baik, saya kira memang conscience itu adalah locus/tempat/lokasi perjumpaan Roh Kudus dng daya kemampuan manusiawi yg hendak mengejar kebijaksanaan; jadi, IMHO, tanpa conscience, dalam batas kewajaran (kesadaran), takkan muncul kebijaksanaan. Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s