Tahu Galaksi, Tahu Diri

Pada halaman Berani Mati, Takut Hidup sudah disampaikan dua tendensi ekstrem yang mengasingkan orang bahkan dari diri sendirinya sendiri justru karena perhatian orang terfiksasi, terlekat, tergantung pada ideologi monolitik berbau chauvinistik dan narcisistik. Tendensi pertama adalah fanatisme terhadap dimensi supranatural yang begitu mementingkan hidup setelah kematian. Tendensi kedua adalah ideologi yang menyangkal adanya hidup setelah kematian. Yang satu mengejar pahala dunia akhirat, yang lain mengejar nikmat dunia zaman now.

Kedua tendensi ini sama-sama memperlakukan Yang Ilahi sebagai objek pemikiran manusia belaka. Perlakuan ini menyulitkan orang untuk mengalami perjumpaan dengan Yang Ilahi, yang justru terwujudkan dalam yang insani. Mengobjekkan Yang Ilahi itu justru menghalangi perjumpaan dengan The Good Infinity yang menyatakan diri dalam dunia yang finite. Bagaimana jalan keluarnya? Usulan Hegel: Cinta. Betul, tetapi itu juga cuma jadi tautologi karena Cinta itu hanyalah label bagi The Good Infinity. Nanti ujung-ujungnya sama: Cinta cuma jadi objek pikiran orang belaka dan orang tak punya pengalaman akan Cinta itu. 

Jalan yang saya lihat adalah kesadaran, sebagaimana dilatihkan oleh Anthony de Mello. Ini bukan teologi, spiritualitas, meditasi, filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya. Tentu, saya tidak menyangkal dan sama sekali tak mengecilkan sejarah panjang pemikiran sistematis yang sudah ditebarkan sejak masa René Descartes sampai pertengahan abad lalu. Pemikir-pemikir besar tentu sudah melihat perkara kesadaran ini lewat disiplin ilmu apapun. Saya hanya akan meninjaunya dari pengalaman sederhana saya sendiri.

Ketika bersama seorang teman menjenguk pasien di RSUD Magelang, kami masuk ke bangsal yang rupanya sudah ada ratusan orang di dalamnya. Tak ada AC. Bilik kamar pasien hanya dibatasi oleh tirai kain. Setelah beberapa menit di dalam bangsal itu saya merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuh saya. Saya menarik teman saya berjalan keluar,”Gon, aku kekurangan oksigen.” Saya memegang pundak teman saya dan seketika itu juga tiba-tiba gelap. Saya tak merasakan lagi sentuhan tangan saya pada teman tetapi saya pikir saya pasti terjatuh dan teman saya serta orang-orang di sekitar saya itu membopong saya. Saya mendengar jelas kata-kata teman saya dan orang-orang lain yang membantu. “Wah, badannya dingin.” Saya berteriak,”Saya tidak apa-apa, cuma kurang oksigen.” Akan tetapi, rupanya teriakan saya itu tak terdengar oleh orang-orang yang membantu saya dan saya waktu itu merasa takut kalau-kalau saya memang sudah mati. Saya mendengar orang-orang berbincang dengan terburu-buru untuk meletakkan saya di bangku dan saya tetap tak bisa menyuarakan diri saya sendiri.

Kegelapan itu berangsur-angsur terang dan saya mendapati diri saya terbaring di bangku dekat teh-tehan. Saya bangun dan orang-orang di dekat saya itu terheran-heran dan mungkin sebagian mangkel karena rupanya begitu saya dibaringkan lantas segera bangun. Cuma pengen dibopong nih anak!

Pengalaman itu mendorong saya untuk mengerti makhluk apa yang disebut ‘saya’, ‘aku’, ‘gue’, ‘beta’, ‘I‘ ini. Rasa kepo ini lebih menggelitik daripada aneka pengetahuan tentang galaksi yang mempertentangkan kaum bumi datar dan kaum bumi bulat. Saya tidak mengatakan bahwa pengetahuan akan galaksi itu tidak penting. Nanti akan kelihatan bahwa sains itu penting, tetapi pentingnya sains itu baru mendapat relevansinya ketika diletakkan dalam konteks untuk memahami ‘saya’ itu. Ironis kan orang menguasai permainan Cute Baby Nursery sampai lupa merawat bayinya sendiri?