Asisten Garengpung

Andaikanlah Tuhan penulis buku. Apa tulisan pertama? Konon menurut St. Augustinus, buku pertama itu adalah alam semesta dengan segala hukum alamiahnya. Akan tetapi, karena dosa (Augustinus ini suka sekali ya tema-tema berbau kedosaan manusia – dan maklum sih karena hidupnya yang amburadul gak karuan) manusia tak bisa melakukan tafsir seturut kaidah hermeneutika yang wajar: terlalu banyak prasangka dan kelekatan pada kepentingan subjektif sehingga tak bisa melihat kemungkinan dunia baru yang dikomunikasikan Tuhan. Manusia tak bisa membaca pesan Allah yang tertera dalam semesta ini.

Pada masa hidup Yesus itu masih mending: Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Sampai saat ini orang masih bisa mengerti apa artinya kalau angin sirocco tiba, tetapi mungkin bukan soal kapan tibanya. Dulu saya akrab dengan suara hewan garengpung sebagai penanda akhir musim hujan, tetapi sekarang garengpung butuh bantuan ilmu sebangsa klimatologi.

Buku kedua yang ditulis Tuhan, menurut St. Augustinus adalah Kitab Suci. Nah, di sini ada soal: Kitab Suci yang mana ya? Kitab Taurat Yahudi, Kitab Suci Katolik, Protestan, Islam, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, dan lain sebagainya? Mana yang ditulis Tuhan?

Namanya analogi, tentu Tuhan tak menulisnya. Kalau memang Tuhan menulis buku yang disebutnya semesta dengan segala hukum alamiahnya, itu sudah termasuk aneka potensi manusia yang hendak menangkap komunikasi-diri Allah melalui semesta ini dong (melalui tanda-tanda dalam dirinya juga, tubuhnya, pikirannya, jiwanya). Jadi, yang disebut Kitab Suci itu ya tetap saja buatan manusia. Kesuciannya tidak terletak pada si pembuatnya, tetapi pada inspirasi yang mengarahkan pembuatnya itu untuk menangkap pesan Tuhan dalam buku pertama tadi.

Nah, inspirasi itu pun tak bisa dibayangkan sebagaimana penggemar film horor mengimajinasikan seseorang menulis dengan modal jailangkung. Njuk gimana dong? Bukankah dalam Gereja Katolik juga kadang muncul sosok yang mengklaim mendengar pesan langsung Bunda Maria dan menuliskannya dalam skripsi? Itu kan prinsipnya sama dengan jailangkung. Haiya justru itulah persoalannya: gimana orang bisa main klaim bahwa dia mendengar langsung pesan dari Tuhan (bagaimanapun itu mau dipersonifikasikan: Roh Kudus, Kristus, Bunda Maria, dll)?

Lha ini renungan: tentu suka-suka Tuhan Dia mau ngapain, tetapi sesuka-sukanya Tuhan ngapain, ujung-ujungnya pastilah kebaikan semesta dan umat manusia sendiri. Lha apa gunanya klaim mendengar pesan langsung dari Allah untuk menghancurkan lingkungan hidup, mengeksploitasi kaum lemah, melanggengkan kekerasan agama, memperkaya diri? Bisakah Kitab Suci menjadi asisten garengpung untuk membaca buku pertama Tuhan tadi atau malah lebih berisik dari garengpung dan orang tak sanggup mendengar sayup-sayup panggilan Tuhan?

Tentu pertanyaan itu keliru. Yang mesti ditanya ya orang-orang munafik ini: bisakah orang memakai Kitab Suci sebagai asisten garengpung untuk menangkap pesan Allah dalam semesta? Atau malah nyinyir untuk bunuh-bunuhan garengpung demi agama, demi ideologi pertumbuhan ekonomi, demi modernisasi, demi ketamakan hati? Hadeuh…

Tuhan, mohon rahmat supaya kami memanfaatkan Kitab Suci sebagai bantuan untuk menangkap panggilan-Mu dalam semesta ini.


JUMAT BIASA XXIX
21 Oktober 2016

Ef 4,1-6
Luk 12,54-59

Posting Jumat Biasa XXIX B/1 Tahun 2015: Kangen Matahari
Posting Jumat Biasa XXIX Tahun 2014: Satu Iman Banyak Agama?

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s