Ekstremis Agama

Saya tak punya data berapa banyak orang yang menganut paham deisme (Allah yang selesai bekerja dulu entah kapan pada saat penciptaan semesta ini) tetapi rasa saya bahkan dari mereka yang taat menjalankan ritual keagamaan pun tak sedikit yang diam-diam menganut paham itu. Jangankan deisme, wong ateisme saja dipelihara dalam praktik hidup orang beragama! Loh, beragama kok ateis, ya mana mungkinlah! Kenapa gak mungkin? Bukankah penghayatan agama itu juga bersifat dinamis? Ada kalanya orang khilaf dan ternyata meniadakan Allah dalam hidupnya. Pada saat itulah ia menjalankan praksis ateisme.

Entah deisme, entah ateisme, keduanya sama-sama meniadakan Allah dalam hidup manusia. Tak ada relasi antara sosok yang disebut Allah dan semesta ini (itu kalau Allah memang ada). Ini pandangan ekstrem yang dihidupi oleh sebagian orang. Sebagian yang lainnya mengambil kutub berlawanan: Allah itu sedemikian terhubungnya dengan semesta dan hidup manusia sehingga ia senantiasa intervensi, mencampuri urusan manusia ciptaan-Nya. Wujud intervensi-Nya ialah aneka mukjizat, aneka anomali dalam tatanan semesta.

Nah, selain itu, ekstremis dalam agama juga menganggap intervensi Allah terjadi pada aneka tragedi hidup manusia. Singkatnya, juga aneka bencana alam terjadi karena dosa-dosa manusia yang mereka lakukan. Artinya, kalau Anda mengalami celaka, tak bisa disangsikan, itu sebagai hukuman atas dosa yang Anda lakukan sebelumnya! Ini sinkron dengan teori (keadilan) retributif yang populer dalam masyarakat: tanggapan paling tepat bagi kejahatan ialah hukuman setimpal. Diam-diam penganut paham ini akan bertanya dalam hatinya secara spontan ketika berhadapan dengan bencana: salah saya apa?

Yesus hendak membongkar kesesatan paham ekstremis itu. Tuhan bukan tukang campur tangan urusan manusia seolah-olah manusia tak punya kebebasan. Bencana, penderitaan, sakit tidak pernah merupakan hukuman Tuhan. Itu cuma penyimpulan-penyimpulan sesat yang dibuat manusia sendiri entah dengan bawa-bawa Kitab Suci atau kitab lainnya.

Alih-alih memahami tragedi kehidupan sebagai hukuman ilahi, orang beriman melihatnya sebagai undangan, panggilan Allah kepada suatu pertobatan yang sejati.
Nah, itu Romo sendiri singgung soal pertobatan, berarti hubungannya dengan dosa dong! Dengan kata lain, tetap saja tragedi kehidupan itu dilihat sebagai konsekuensi dosa, bukan?
Hmmm kayaknya gak gitu juga sih karena pertobatan pertama-tama bukan soal moral (memperbaiki kesalahan), melainkan soal keterlibatan dalam proyek Allah sendiri. Ini bukan soal hukum karma, melainkan soal reorientasi hidup orang. Kalau orang tak mereorientasi hidupnya pada Kebenaran, ia tak bisa melihat tragedi kehidupan sebagai anak tangga untuk mengabdi Tuhannya.

Ya itu tadi, orang cuma pikir soal hukum-hukuman. Mesakke… seperti gak ada cara pandang lain saja yang lebih ringan, positif, imajinatif, progresif, inklusif, dan seterusnya. Tetapi gimana ya, kebanyakan orang beragama justru jatuhnya ke cara pandang formal soal dosa dan hukumannya daripada wujud tobat dan pengampunannya. Orang ekstremis lebih spontan bertanya “Apa salahku?” dan ambil ancang-ancang defensif (bahkan mungkin ofensif) daripada “Apa yang bisa kubuat supaya kemuliaan Tuhan lebih tampak dalam hidup ini?”

Tuhan, mohon kejernihan hati untuk mengubah fokus dari dosa kepada tobat yang lebih membebaskan kami untuk mengikuti kehendak-Mu.


SABTU BIASA XXIX
22 Oktober 2016

Ef 4,7-16
Luk 13,1-9

Posting Sabtu Biasa XXIX B/1 Tahun 2015: Kapan Kutukan Tuhan Terjadi?
Posting Sabtu Biasa XXIX Tahun2014: Awas Kabut Azab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s