Awas Kabut Azab

Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan ‘azab’ sebagai siksa Tuhan yang diganjarkan kepada manusia yang melanggar larangan agama. Bisa kita bayangkan jika terjadi kabut ‘azab’ yang tak terpadamkan: orang-orang yang terkena kabut itu mestilah mereka yang melanggar larangan agama. Tetapi cara berpikir seperti ini jelas tak cocok dengan kenyataan dan bisa menyulut kemarahan mereka yang menderita bencana tertentu dan, sayangnya, sebagian orang masih juga mempertahankan keyakinan primitif ini.

Memang penderitaan orang baik itu menjadi keberatan, batu sandungan, skandal nyata terhadap kebaikan Allah: bagaimana mungkin Allah mahabaik kok membiarkan orang baik malah menderita?!
Kitab Suci tidak menyodorkan pemecahan yang gampang: derita tetaplah tinggal sebagai misteri yang tak sepenuhnya terpahami. Jauh sebelum tsunami Aceh, gempa bumi di Padang, asap di Sumatera dan Kalimantan, sebagian orang sudah punya keyakinan bahwa bencana atau penderitaan manusia itu adalah akibat dosa-dosa manusia: kamu berdosa, maka rasakanlah akibatnya!

Kitab Ayub menyangkal asumsi seperti itu: kurang suci apa si Ayub, tapi toh hidupnya seperti kena kutuk Tuhan. Pada masa hidup Yesus juga diyakini bahwa nasib buruk orang merupakan akibat kesalahan orang itu. Bayangkan, orang naik haji lalu tertimpa crane yang roboh tertiup angin ribut; salah siapa? Ada sekelompok orang yang menjalankan ibadat devotif di laut dan kapalnya tenggelam tersapu ombak; salah siapa? Dulu ada warga desa yang mati tertimpa tugu yang dibangun oleh mahasiswa KKN; andaikan yang mati itu adalah seorang yang baik sekali, apakah kematiannya itu diakibatkan oleh kekhilafannya mengembalikan uang penjual es yang terlalu banyak memberikan uang kembalian beberapa menit sebelumnya?

Yesus mengambil contoh delapan belas orang yang mati tertimpa menara dekat Siloam untuk menanggapi pertanyaan murid-muridnya mengenai nasib orang-orang Galilea yang mati di tangan Pilatus dan darahnya bercampur dengan darah binatang persembahan. Yesus kiranya cenderung melihat penyebab kematian mereka masing-masing sebagai kekeliruan arsitek pembangun menara dan kesewenang-wenangan Pilatus, dan bukan kesalahan dan dosa para korban itu sendiri. Akan tetapi, poin yang hendak disodorkan Yesus tidak terletak pada pencarian pelaku kesalahan, entah oknum pemerintahan ataupun pihak swasta.

Pernyataannya menarik disimak: Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain [hanya] karena mereka mengalami nasib itu? Ia memberi catatan atas arogansi orang yang punya keyakinan primitif tadi: jangan merasa diri lebih baik dari mereka yang hidupnya menderita. Yesus tak ingin pendengarnya berpikir bahwa tragedi atau bencana itu merupakan hukuman terhadap orang lain yang lebih berdosa atau dosanya lebih banyak. Ia berpesan: jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Itulah: pertobatan. Sekali lagi, ini soal pertobatan, bukan pertama-tama soal dosa.

Dengan pengertian bahwa tobat ialah ungkapan partisipasi dalam kerja Allah di dunia ini, orang akan berusaha sebaik-baiknya seturut yang diyakininya sebagai kehendak Allah baginya.
Loh itu kok ada orang yang membunuh atas nama Allah dan agama? Haiya jelas karena sikap dan keyakinan arogan tadi toh yang diterapkan kepada orang lain: kamu berdosa, maka rasakanlah akibatnya! Begitulah orang fundamentalis yang tak mau bertobat, baru tahu sedikit saja sudah merasa tahu segala-galanya. Dalam perumpamaan di akhir teks, orang seperti ini laksana pohon ara yang mendapati ajalnya karena sudah diberi extra time tetapi tak juga berbuah sesuatu meskipun sudah dirawat baik-baik.

Ya Tuhan, aku mohon rahmat supaya semakin mengerti rencana-Mu atas diriku dalam pergumulan hidup sehari-hari. Amin.


HARI SABTU BIASA XXIX B/1
24 Oktober 2015

Rm 8,1-11
Luk 13,1-9

Posting Tahun Lalu: Kapan Kutukan Tuhan Terjadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s