Susahnya Jadi Nobody

Pengemis profesional tahu betul bahwa positioning menentukan rezeki. Belum pernah saya jumpai pengemis yang mengeksekusi work plan-nya di ujung jalan buntu. Bartimeus yang disembuhkan Yesus tergolong dalam kelompok pinggiran yang begitu cerdas memilih tempat kerja, yang tidak hanya menguntungkan secara material, tetapi juga membuka peluang besar baginya untuk mengikuti Kristus.

Terjemahan bahasa Indonesia mungkin perlu diberi penjelasan mengenai Bartimeus. Entah siapa penerjemahnya, mungkin tak begitu akrab dengan kultur Jawa yang melesapkan nama seseorang dengan referensi nama orang lain. Bayangkanlah sekelompok ibu-ibu yang ngerumpi membicarakan suami-suami mereka. Kerap yang terlontar bukan nama suami mereka, melainkan malah nama anak mereka. “Eh, Jeng, gimana sih bapaknya Didit itu kok gak pernah kelihatan ronda?” Pun dalam kontak langsung dengan yang bersangkutan, seorang bisa menyapa ‘bapaknya Didit’ tadi dengan kata ‘bapaknya Didit’ begitu saja. “Selamat pagi, Bapaknya Didit mau ke mana pagi-pagi sekali?” (mau tauuuu aja).

Bartimeus bukanlah nama. Itu merupakan keterangan bahwa ia adalah anak Timeus. Ia tak bernama, dan itu simbolik sekali sebagai orang buta yang terpinggirkan dari masyarakat, tak dianggap, tak dipandang, tak punya peran. Dalam bahasa Inggris, ia disebut sebagai nobody, bukan siapa-siapa. Akan tetapi, justru status inilah yang memungkinkan karya Allah ditampakkan.

Nobody TiananmenDalam kartun itu dilontarkan komentar orang terhadap seseorang yang ‘sinting’ mencegat panser. Sulit menerjemahkan komentar itu dalam bahasa Indonesia. Poinnya, yang bisa menghentikan kekuatan besar panser itu hanyalah nobody dan persis orang ‘sinting’ tadi mengidentikkan dirinya sebagai nobody dan itulah mengapa ia yakin untuk melakukan tindakan gila itu.

Apa yang dibuat anaknya Timeus tadi? Sebagai pengemis profesional, ia memilih tempat di jalan keluar Yeriko: pasti banyak orang akan melalui tempat itu untuk ziarah ke Yerusalem, misalnya. Begitu tahu bahwa yang lewat itu Yesus, ia mulai berseru-seru memanggil ‘anak Daud’ itu. Ia mengendus-endus bahwa Yesus itu Anak Daud dan dalam tradisi Yahudi ada keyakinan bahwa Anak Daud (Salomo) punya kekuatan penyembuhan. Ia berseru-seru mohon kesembuhan bukan dengan berteriak,”Anak Daud, sembuhkanlah aku!” Ia menyerukan,”Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Ia tidak memberi perintah kepada Yesus untuk menyembuhkannya. Ia memohon belas kasihannya.

Tak ada orang yang memohon belas kasihan dengan modal arogansi, ia mesti menjadi nobody. Gambaran menjadi nobody ini juga terlihat jelas jika dikontraskan dengan reaksi orang banyak yang melarang anak Timeus itu berteriak-teriak minta belas kasihan. Ia tetap meminta belas kasihan sehingga akhirnya Yesus berhenti dan justru memanggilnya melalui orang banyak tadi. Apa yang dibuatnya? Ia menanggalkan jubahnya. Ini bukan hal sepele. Jubahnya barangkali adalah satu-satunya yang ia miliki yang bisa sewaktu-waktu diberikan kepada orang lain untuk ditukar dengan makan atau minum. Ia mendapati Yesus dan ketika ia sudah sembuh, diminta pergi, malah kemudian mengikuti Yesus.

Mengikuti Kristus tak mungkin terjadi tanpa perjumpaan pribadi dengan-Nya dan sayangnya, perjumpaan pribadi dengan Tuhan sudah dengan sendirinya membuat orang semakin jadi nobody, menanggalkan ego, meninggalkan aneka beban atribut dan proyek pribadi yang tak cocok dengan misi universal Allah: keselamatan bagi semua orang, apapun suku, agama, dan rasnya. Nobody mensinyalkan adanya harapan bahwa ada sesuatu yang bisa dilakukan pun dengan risiko kegagalan. Ya namanya nobody, mosok gak boleh gagal…

Tuhan, semoga aku dimampukan untuk menanggalkan beban hidup yang membuatku berat untuk mengikuti Engkau. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXX B/1
25 Oktober 2015

Yer 31,7-9
Ibr 5,1-6
Mrk 10,46-52

Posting Minggu Biasa XXX A: Seberapa Abadi Cintamu

2 replies

  1. dan…untuk menjadi nobody didepanNya itu… sebuah pergumulan yang panjang Mo…butuh lebih dari 144 SKS dan lebih dari 8 semester hihihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s