Seberapa Abadi Cintamu

Banyak orang salah memahami ‘hidup kekal’ sebagai hidup setelah kematian. Orang menanti-nanti hidup macam itu dengan berbuat sebanyak mungkin amal kasih supaya mendapat pahala kelak di surga, setelah orang mati. Orang membantu gerakan keagamaan supaya nanti kalau mati diberi pahala. Orang berziarah jauh ke tempat-tempat suci supaya setelah mati nanti mendapat jaminan di surga. Pemilik perusahaan memberikan bantuan cuma-cuma supaya di akhirat nanti ia mendapat bantuan dari Abraham, dan sebagainya.

Fokus pada pahala akhirat dari amal kasih itu sebetulnya malah menyangkal esensi kehidupan kekal sendiri. Kok isa? Ya bisa, justru karena hidup kekal itu tak terikat waktu, mengatasi waktu, merangkum segala waktu, sebelum mati maupun setelah mati. Kalau orang berpikir mengenai hidup kekal sebagai hidup setelah kematian, berarti hidup sebelum mati ini tidak masuk dalam hitungan hidup kekal.

Loh, memang hidup sekarang ini kan sifatnya sementara, Romo?! Semua orang juga sepakat bahwa hidup kita sekarang ini hanya sementara.
Haiya betul, tapi yang dimaksud di situ kan hidup fisik. Kalau orang percaya pada Roh Kudus, jika orang menghayati hidupnya dalam Roh, ia tak akan mencampuradukkan hidup kekal dengan hidup fisik. Hidup kekal senantiasa menunjuk pada hidup dalam roh, apapun hukum fisik yang membungkusnya.

Dengan kata lain, kehidupan kekal bukanlah melulu hidup setelah kematian, melainkan hidup yang sesungguhnya, hidup sejati, hidup yang senantiasa berlangsung, yaitu hidup roh sendiri, kehidupan jiwa manusia yang tak selesai dengan kematian fisiknya.

Lha repotnya, hidup roh sebelum kematian fisik ini seringkali justru dikorupsi oleh paradigma berpikir yang tidak klop dengan kekekalan hidup. Orang mau mempertahankan unsur fisik hidupnya yang jelas-jelas terbatas sehingga aneka pergumulan hidupnya tak membahagiakan jiwa. Satu-satunya cara untuk memelihara hidup kekal itu ialah menghayati hukum utama: cinta kepada Allah dan sesama.

Bagaimana cinta Allah dan sesama ini menjamin hidup kekal? Dengan memberi reward saat ini dan di sini: orang happy bukan karena mendapat ucapan terima kasih setelah bekerja keras membantu sesama, melainkan orang happy dalam bekerja keras membantu sesama. Ada orang yang berbuat baik tetapi merasa tidak mendapat penghargaan dan karena itu tidak bahagia. Akan tetapi, ada juga orang yang bahagia dalam berbuat baik, dan kebahagiaannya ini tak tercoreng oleh reward yang diperolehnya dari orang lain.

Orang yang kedua itulah yang menghayati hidup kekal! Ia senantiasa bahagia dalam bertindak, bukan dalam hasil yang diperolehnya atas tindakan itu.


MINGGU BIASA XXX A/2
26 Oktober 2014

Kel 22,21-27
1Tes 1,5c-10
Mat 22,34-40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s