Gak Ngerti Mau Ngapain

Orang yang ribut soal surga sana biasanya bikin ribut dengan hidup di neraka sini. Masuk akal juga sih: gak ngerti mau ngapain di dunia sini, jadi bikin aja spekulasi soal dunia sana lalu dijadikan norma dan aturan di dunia sini. Nah, jadilah berantem dengan orang lain yang dasarnya juga sama: gak ngerti mau ngapain di dunia sini. Berantemnya itu bukan cuma jambak-jambakan, Saudara-saudara! Bunuh-bunuhan. Ngeri kan? Sekali lagi, alasannya sederhana: gak ngerti mau ngapain di dunia sini, bahkan sekalipun sudah punya pekerjaan tetap!

Mari lihat hal itu dengan penjelasan lainnya.
Supaya orang bisa mati, dia harus hidup lebih dulu, bukan? Akan tetapi, kalau hidup yang dimaksudkan itu lebih dari sekadar hidup biologis, matinya tak harus menunggu selesainya hidup biologis itu. Orang bisa saja mati (biologis) sebelum ia sempat hidup (yang lebih luas daripada hidup biologis). Maklum, kematian biologis ini tak mengenal hukum, waktu, harga diri, gelar, dan sebagainya. ‘Saudara kematian’ ini bisa datang kapanpun, entah orang siap atau tidak, dengan aneka macam cara.

Lha, repotnya, sebagian orang mau menyingkirkan ‘saudara kematian’ itu dari hidupnya. Hasrat menentang ‘saudara kematian’ inilah yang justru merangsang kematian nonbiologis. ‘Saudara kematian nonbiologis’ ini mengenal hukum: ia akan datang ketika orang mau melanggengkan yang tidak langgeng. Loh, apa kalau begitu orang bunuh diri saja untuk mengamini kematian unsur-unsur biologis yang tak langgeng ini? Ha itu justru semakin menegaskan paragraf pertama tadi: gak ngerti mau ngapain di dunia sini, frustrasi. Sebelum bunuh diri, ia sudah mati.

Dengan penalaran azas dan dasar, orang mengalami proses kematian nonbiologis ketika ia membolak-balikkan sarana dan tujuan, kehilangan kemerdekaan dari kelekatan yang kacau. Dalam perumpamaan teks Injil hari ini, ia seperti hamba yang selama tuannya pergi malah menganiaya hamba lain: ia memakai kepercayaan dari tuannya untuk melakukan pekerjaan yang persis bertentangan dengan maksud kepercayaan itu diberikan kepadanya.

Dalam konteks itulah berlaku siapa yang menerima banyak kepercayaan, mendapat pula banyak tuntutan. Konsekuen dengan itu, siapa yang menerima kebenaran, ia dituntut pula merealisasikan kebenaran itu. Ini bukan kebenaran yang diperoleh melalui utak-atik-otak, bukan kebenaran versi agama belaka, melainkan kebenaran yang muncul dari relasi pribadi antara manusia yang hidup dan Sang Pemberi Kehidupan. Kebenaran dalam relasi pribadi dengan Allah inilah yang memberi semangat, tenaga, vitalitas orang, apapun status hidupnya, apapun pekerjaannya, apapun kesulitannya.

Ya Tuhan, semoga aku semakin mengerti azas dan dasar hidupku serta mampu menerjemahkannya dalam setiap pengambilan keputusan. Amin.


HARI RABU BIASA XXIX B/1
21 Oktober 2015

Rm 6,12-18
Luk 12,39-48

Posting Tahun Lalu: Jangan Lupa Bernafas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s