PHP Tuhan

Pernah berlari atau berenang dengan celana kedodoran? Rasanya gimanaaaa gitu. Celana kedodoran bisa jadi faktor nonteknis kekalahan orang yang berlomba lari atau berenang. Wejangan Injil hari ini tentu tak terkait dengan celana renang, tetapi bisa dimengerti dengan analogi celana kedodoran. Supaya ulasannya tidak njelimet di sekitar celana, baiklah kita ikuti teks Injilnya saja: Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Pakaian orang Yahudi waktu itu kiranya berupa jubah panjang yang tentu saja tak begitu kondusif untuk berlari atau melakukan pekerjaan yang menuntut keringkasan pakaian. Maka, kalau mau bekerja, orang menyelipkan ujung jubah panjangnya ke dalam ikatan pada pinggang supaya lebih leluasa menggerakkan anggota badan. Ungkapan ‘pelita tetap menyala’ adalah idiom supaya orang siap sedia setiap saat.

Siap sedia untuk apa? Dalam teks itu diindikasikan kesiapsediaan untuk melayani tuan yang pergi ke pesta mantenan. Pesta manten bisa berlangsung berhari-hari dan mohon maklum, belum ada medsos saat itu sehingga si tuan bisa saja muncul setiap saat. Setiap saat itu berarti antara pukul sembilan malam sampai tiga dini hari menurut jadwal Romawi atau rentang waktu antara jam sepuluh malam sampai enam pagi seturut jadwal Yahudi. Entah jadwal manapun, pokoknya si tuan itu bisa pulang pada jam kritis, saat orang sewajarnya istirahat.

Wejangan itu tampaknya sepele dan mudah dilakukan asal orang sudah biasa ronda atau kerja shift malam. Akan tetapi mesti diingat bahwa rentang waktu yang disodorkan itu hanyalah analogi bagi kesiapsediaan orang beriman. Pesannya jelas, siap sedia setiap saat; tetapi keterangan waktu itu memberikan insinuasi pada waktu-waktu kritis yang memungkinkan orang teledor. Jadi, orang beriman diminta untuk eling lan waspada justru pada saat-saat ia berada dalam kondisi yang membahayakan sikap eling lan waspadanya itu: mungkin saat sakit, mungkin saat hidupnya berlimpah ruah karena undian berhadiah, dan sebagainya.

Dari bacaan pertama mungkin bisa direfleksikan juga ‘saat kritis’ itu sebagai paradigma sesat berkenaan dengan dosa. Apa itu? Pikiran bahwa dosa lebih penting untuk diperhatikan atau lebih besar daripada rahmat! Kapan orang berpikir begitu? Saat orang, misalnya, merasa diri pendosa dan tak pantas di hadapan Tuhan tetapi tidak mau menerima panggilan rahmat-Nya; alias… pendosa tapi gak niat bertobat, tak mau mendekat atau didekati Tuhan. Serasa digantung gak sih Tuhan itu ketika diputus oleh manusia dengan ungkapan: kamu terlalu baik bagiku. Gak jelas amat!

Tuhan, bantulah aku untuk mengalami kebesaran rahmat-Mu atas dosa-dosaku dan siap sedia mengabdi-Mu. Amin.


HARI SELASA BIASA XXIX B/1
20 Oktober 2015

Rm 5,12.15b.17-19.20b-21
Luk 12,35-38

Posting Tahun Lalu: Dengar Dia Panggil Namamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s