Need or Greed?

Sebagaimana pakar hukum tidak otomatis berkepribadian legalistik, demikian pula pakar moral tidak selalu bersikap moralistik. Biasanya yang punya sikap legalistik atau moralistik malah orang fanatik fundamentalis yang tak sungguh ahli dalam bidang-bidang itu dan tak bisa melihat hubungan dengan dimensi hidup lainnya. Kebanyakan orang tampaknya begitu: memandang agama melulu sebagai perangkat hukum moral. [Tak mengherankan, jika di sana-sini ada kekacauan dengan atribut agama, orang menuding agama sebagai biang keroknya.]

Teks Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus diminta orang untuk mendesak saudaranya agar berbagi warisan. Konon pada abad pertama Masehi, orang-orang seperti rabbi itu kerap diminta jadi mediator untuk konflik soal gono gini, warisan, dan sejenisnya. Pokoknya, sebagai orang yang dianggap bijak, mereka dipercaya mengurus aneka problem hukum moral. Akan tetapi, mari kita lihat tanggapan Yesus: sejak kapan aku diangkat jadi hakim atau mediator di antara kalian?!

Yesus menampik permintaan orang itu dengan memberikan dua catatan. Pertama, nasihat moral: jangan tamak, karena hidup ini tak bergantung pada hal yang kamu ‘tamaki’ itu. Kedua, perumpamaan untuk menjelaskan alasan nasihat moral tadi. Dua catatan ini menggambarkan pandangan Yesus terhadap hidup di dunia ini dan menunjukkan perannya: dia bukan perantara subjek moral, melainkan perantara Allah dan manusia. Maka dari itu, tak mengherankan bahwa ia tidak menghukum pelacur (Yoh 8,11). Ia ‘hanya’ mengingatkan bahaya dosa bagi perempuan itu.

Dalam perikop Injil hari ini, ia tidak mengecam kekayaan tetapi melihat bahaya kekayaan itu. Apa bahayanya? Yang dilihat Yesus bukan pertama-tama bahaya dalam tatanan moral (hasrat kekayaan bisa memicu kapitalisme yang secara sosial bisa saja merugikan kaum lemah). Ia tampaknya tak antusias dengan wacana itu. Yang lebih dilihat Yesus adalah bahaya latennya. Kekayaan, hidup mewah, menjanjikan hal-hal yang tak bisa dipertahankan oleh kekayaan atau hidup mewah itu sendiri: kegembiraan hidup, kedamaian, ketenangan, kebebasan.

Oleh karena itu, mungkin ada baiknya dilihat secara jujur apa yang dimohonkan oleh hati dan mencocokkannya dengan apa yang diinsinuasikan Yesus. Orang beriman tidak memohon kekayaan atau kemiskinan, sehat atau sakit, untung atau malang. Kenapa? Dalam kekayaannya orang bisa melupakan Allah (karena merasa mampu dari dirinya sendiri), tetapi dalam kemiskinannya orang juga bisa menghujat Allah (karena kesusahan hidupnya). Jadi, alih-alih sibuk dengan pertanyaan boleh tidak jadi kaya, boleh tidak main judi, boleh tidak mencontek, plagiat, dan lain sebagainya (yang tentu ada dalam sorotan moralitas itu), orang beriman pertama-tama mesti menjawab pertanyaan apa yang sesungguhnya menentramkan hatinya jika ia toh punya banyak harta.

Pada akhir perumpamaan terdapat kalimat tanya yang berlaku untuk semua orang: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (Luk 12,20 ITB) Semakin luas peruntukannya, semakin membahagiakan jiwa orang. Maka, permohonan orang yang sungguh beriman tidak terletak pada akumulasi kepemilikan modal, tetapi pada kepemilikan hati yang terbuka pada nasib untung dan malang, sehat dan sakit, kaya dan miskin. Pokoknya Allah dimuliakan dalam hidupnya. Titik.


HARI SENIN BIASA XXIX B/1
19 Oktober 2015

Rm 4,20-25
Luk 12,13-21

Posting Tahun Lalu: Berenang-renang Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s