Beriman: Tut Wuri

Bulan lalu salah seorang personel grup-menyanyi jadi bulan-bulanan netizen (minggu lalu jadi minggu-mingguan, halah…) karena keliru mencocokkan antara terjemahan bhinneka tunggal ika dan tut wuri handayani. Saya bisa memakluminya karena saya sendiri tidak begitu tahu pengartian tut wuri handayani. Cuma tahu kata orang lain. Memang tut wuri begitu akrab dengan telinga saya dengan kata-kata ngetutke (dengan cukup satu ‘n’) saka mburi yang artinya mengikuti dari belakang. Tetapi kata handayani untuk otak saya ini cuma berarti nama ibu atau merk bakso favorit sewaktu kecil. Lha, kalau orang punya ibu namanya I Ketut Wuri Handayani (apakah mungkin ada?) tetapi tidak akrab dengan bahasa Jawa, bisa jadi nama ibunya lebih akrab daripada pengertian tut wuri handayani.

Kalau orang cuma bisa menghafal sesuatu tanpa mengertinya, bisa saja syaraf memorinya korslet sebentar dan salah mencocokkan arti. Nah, saat membaca teks Injil hari ini, kata yang nyantol di kepala saya memang tut wuri tanpa handayani. Ceritanya sederhana. Yesus bersama murid-muridnya sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, menyongsong sengsara salibnya. Yakobus dan Yohanes, mungkin setelah diskusi panas dengan sepuluh rasul lainnya, tahu-tahu nembak Yesus untuk minta jabatan strategis jika kelak Yesus jadi raja.

Menariknya, kisah ini dituturkan secara berbeda oleh Matius (Mat 20,20). Di sini disebutkan bahwa yang menyampaikan permohonan ialah sang ibu dari dua rasul itu. Loh, trus mana yang benar? Yakobus dan Yohanes sendiri yang meminta atau ibu mereka? Pertanyaan itu salah tempat. Injil tidak bisa dimengerti sebagai buku sejarah begitu saja. Tak bisa dipakai semata untuk memastikan jumlah orang yang diberi makan, empat ribu atau lima ribu, dan sebagainya. Maka, mungkin lebih baik ditanyakan mengapa bisa terjadi dua versi yang berbeda.

Itu pun saya tidak tahu persis jawabannya. Kesan saya, Injil Markus lebih tampil apa adanya tanpa aneka macam bumbu. Matius bisa jadi mempertimbangkan peran besar Yakobus dan Yohanes sepeninggal Yesus sehingga sebisa mungkin ‘dosa-dosa masa lalu’ mereka tak perlu diungkit (maka ‘dikorbankanlah’ ibu mereka). Meminta posisi, status, jabatan kepada Yesus kiranya menjadi aib bagi para rasul karena itu menandakan mereka tak tahu apa yang diperjuangkan Yesus dan yang mereka minta.

Dalam kamus peziarahan rohani, mendekati guru bisa identik dengan memposisikan diri sejajar dengan guru dan memuat bahaya untuk mendahuluinya. Mungkin baik kita pertimbangkan tiga poin berikut ini:
Pertama, Yesus tidak memberikan katebelece. Beriman bukan soal memperoleh keberuntungan, sebagaimana anak orang kaya tinggal mewarisi bisnis orang tuanya. Beriman itu muncul dari kedalaman pribadi sendiri, dari usaha untuk menanggapi rahmat-Nya.
Kedua, ‘mengikuti Kristus’ mengandaikan bahwa Kristus di depan dan orang yang mengikuti-Nya ada di belakang (Itulah tut wuri tanpa handayani). Dia yang tahu jalan. Murid tak perlu berlagak lebih tahu dari gurunya (Mat 10,24) hanya karena dia lebih update dengan kemajuan teknologi.
Ketiga, mari lihat manajer tim sepak bola. Manajer yang baik tahu benar posisi yang tepat bagi para pemainnya. Maka, permintaan ‘duduk di kiri dan kanan’ bagi dua murid tadi semestinya diubah menjadi pertanyaan reflektif apakah orang sudah memainkan peran yang tepat.

Lha itulah susahnya beriman: orang mau cari gampang dengan katebelece, asal sudah jadi prodiakon ya cukup, asal sudah jadi pastor ya sudah, sudah jadi uskup ya mau apalagi, selesai! Orang lupa, beriman sama sekali tak identik dengan status. Ia senantiasa di belakang, mengikuti Kristus yang diimaninya dan takkan pernah mendahului-Nya.

Tuhan, semoga aku semakin menemukan peran yang paling tepat dalam proyek-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIX B/1
18 Oktober 2015

Yes 53,10-11
Ibr 4,14-16
Mrk 10,35-45

Posting Minggu Biasa XXIX A/2 Tahun Lalu: Jadi Revolusi Mental Gak Ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s