Agama Ateis

Apapun merk radio, buatan manapun, jika tak ada antenanya, apapun modelnya, hanya akan berfungsi sebagai replika radio dan takkan pernah bisa menangkap sinyal elektromagnetik yang jadi bahan untuk diolah menjadi sinyal listrik yang output-nya suara. Pada televisi model lama, tanpa antena, kiranya sinyal elektromagnetik itu hanya diterjemahkan sebagai ratusan ribu semut yang bergerak acak ke sana kemari tanpa citra yang jelas.

Saya mulai ragu-ragu bahwa di dunia ini ada orang ateis di luar agama-agama. Yang ada hanyalah orang yang tidak punya keseimbangan antara rasio dan iman. Orang ateis ada pada titik ekstrem rasionalitas sehingga hadir dalam aneka macam agama. Agama bisa mengakomodasi penganutnya untuk menjadi ateis praktis. Perilakunya seperti setan: percaya kepada-Nya tetapi tak mau tunduk kepada-Nya; rajin beribadat tapi perilakunya jahat; getol berdoa tapi akrab berdosa.

Kalau ateisme dipahami murni sebagai posisi intelektual (sehingga abai terhadap praktik-praktik keagamaan), itu juga sudah dengan sendirinya menunjukkan bahwa ateisme hanyalah titik ekstrem tertentu dari rasionalitas yang memblokade dimensi lain, termasuk iman. Iman sendiri, seperti antena radio tadi, sebetulnya sudah built-in dengan elemen rasionalitas pada diri manusia; tetapi soal berfungsi baik atau tidaknya ya bergantung pada keseimbangannya dengan elemen lain. Setiap orang bisa jadi ateis manakala rasionalitasnya terlalu dominan dan tak memberi tempat pada elemen lain. Yang ditolaknya bukan substansi makhluk supranatural, melainkan ide-idenya tentang makhluk supranatural.

Menghujat Roh Kudus, sebagai dosa yang tak terampuni, kiranya merupakan tindakan untuk merepresi elemen selain rasionalitas itu. Represi oleh rasionalitas itu menutup keterbukaan hati pada Cinta. Ironis dan logisnya, karena hati tak terbuka, Cinta pengampunan pun tak bisa masuk. Maka dari itu tak mungkinlah orang meminta pengampunan dengan modal rasionalitas (belaka), dan kalau tidak meminta pengampunan, bagaimana mungkin ia mendapatkan pengampunan? Bayangkanlah orang datang kepada Anda,”Halo, saya sudah memberi Anda maaf loh!” Anda akan terbengong-bengong,”Maaf apa ya? Saya gak minta tuh, dan saya tidak merasa menerima maaf dari Anda!” Baru ketika Anda tersadar bahwa Anda telah menginjak jempolnya lalu Anda minta maaf, setelah itulah Anda menerima pengampunan.

Kesediaan untuk meminta maaf, meminta ampun, tidak datang dari rasionalitas, melainkan dari hati yang terbuka pada kerapuhan. Permintaan maaf dari rasionalitas biasanya bersifat politis ala lip service. Pemberian maaf pun tak bisa diharapkan ketulusannya. Lihatlah orang yang berkali-kali dengan santainya meminta maaf untuk kesalahan yang kurang lebih sama; ia sudah menentukan nasibnya sendiri untuk tak mendapat pengampunan. Demikian halnya orang yang menghujat Roh Kudus.

Tuhan, berilah aku kejernihan hati dan budi dalam hiruk pikuk pekerjaanku. Amin.


HARI SABTU BIASA XXVIII B/1
Peringatan Wajib St. Ignatius dari Antiokhia
17 Oktober 2015

Rm 4,13.16-18
Luk 12,8-12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s