Transparan Lebih Asik

Anda pernah dengar istilah Johari Window, bukan? [Ini pertanyaan rada naif juga di era internet.] Kenapa pikiran saya ke sana? Karena sewaktu mendoakan teks Injil hari ini muncul pertanyaan: kok bisa-bisanya Yesus menilai orang-orang Farisi yang dilihatnya sebagai orang munafik? Bukankah kemunafikan itu adanya di hati orang? Bagaimana mungkin orang melihat hati orang?

Dalam Johari Window, hati itu terletak pada hidden area atau juga unknown area. Kedua area ini tak diketahui oleh orang lain, bahkan oleh diri sendiri. Tak perlu naif dengan dalih iman bahwa Yesus adalah Tuhan, jadi dia tahu segala-galanya. Itu mbelgedhes bahkan meskipun dalam teks lain dikatakan bahwa Yesus mengetahui pikiran orang (lih. Luk 4,23; 6,8; 7,40; 9,47). Kenapa? Yesus mengetahui pikiran orang bukan dalam arti seperti disajikan sinetron Indonesia, yang pikiran orang bengong aja bisa tersiar ke seantero negeri sehingga penonton mengetahui pikiran tokoh sinetronnya. Ia mengetahui pikiran orang melalui reasoning. Artinya, ia sadar akan penalaran orang (Luk 5,22), yang bisa ditilik lewat tingkat integritas orang. Dengan begitu, ia juga sadar akan kadar ketulusan orang lain.

Hmm… jadi Yesus itu menganggap orang Farisi itu tidak tulus ya? Betul. Tak ada integritas dalam diri mereka, dan itulah yang dipesankan olehnya supaya orang tidak ketularan. Akan tetapi, saya juga mengetahui pikiran Yesus loh! Ia tahu bahwa wanti-wantinya itu mesti ada yang mendengarkan, tetapi ada juga yang cuek (bdk. perumpamaan tentang penabur, Luk 8,4-8 misalnya). Jadi, ia pun maklum kalau ada orang yang toh meskipun mengaku ikut Yesus tetapi integritasnya minim. Dengan kerangka Johari Window tadi, orang yang integritasnya minim ialah mereka yang kuadran unknown area-nya jauh lebih besar daripada open area.

Supaya semakin berintegritas dalam beriman, orang mesti memperluas open area-nya. Caranya? Self-disclosure dengan menyatakan motif pribadi kepada orang lain (yang pasti tak mengerti jika tak kita beri tahu) dan sekaligus meminta feedback terhadap tampilan yang tampaknya tak sinkron dengan kesadaran kita (bilangnya berani, tetapi mukanya pucat; bilangnya sudah pasrah, tapi gerutu tak kunjung usai). Self-disclosure itu justru membantu kita untuk menemukan cercahan wilayah gelap diri kita (self-discovery), dan bersama feedback dari orang lain kita malah menemukan wilayah gelap yang barangkali semula tak dilihat bersama sehingga unknown area itu perlahan-lahan terbongkar dan jadilah hidup ini transparan dan transparan itu kiranya membahagiakan (bukan pakaian transparan [meskipun mungkin menyenangkan], melainkan hati yang transparan). Kritik Yesus menuntun orang beriman untuk hidup transparan di hadapan Allah, menghancurkan agenda pribadi yang tak sejalan dengan kehendak-Nya.

Tuhan, semoga aku semakin berani terbuka pada kehendak-Mu. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXVIII B/1
16 Oktober 2015

Rm 4,1-8
Luk 12,1-7

Posting Tahun Lalu: Isis Vatikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s