Isis Vatikan

Sahabat-sahabat… janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi… Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka.

Wah, lha kok kayaknya enteng banget Yesus memberi nasihat seperti itu ya? Padahal dia sendiri sewaktu di Taman Getsemani (bdk. Mat 26,36-45) ya stress-nya setengah mati begitu, dan itu pasti terkait dengan ketakutan toh?

Loh, kan ngasih nasihatnya sebelum dia di Taman Getsemani! Oh iya ya…
Tapi kalau begitu, berarti dia gak bisa menerapkan nasihatnya sendiri dong. Apa bedanya dengan orang Farisi yang dikritiknya? Sama-sama munafik, kan?

Yo sabar dulu, Bang. Bisa jadi itu proyeksi perasaan Abang aja terhadap orang lain. Pertama, gak ada catatan bahwa dia takut menghadapi orang yang hendak membunuhnya. Bisa jadi objek ketakutannya beda. Kedua, de facto, ada kasus juga ketika orang lain benar-benar tak takut menghadapi algojonya sementara Abang, membayangkannya saja sudah merasa ngeri. Tapi, sudahlah, tak usah berdebat kusir kuda begitu…

Kepada mereka yang kuasanya terbatas, orang tak perlu merasa takut justru karena paling banter orang-orang itu “hanya” bisa membunuh. Caranya bisa halus, bisa keji, tapi pokoknya setelah orang lain terbunuh, mereka tak bisa mengapa-apakan jiwa orang itu, apalagi jiwa orang yang sudah mengenal kebahagiaan kekal: sekali merdeka, tetap merdeka. Bacaan pertama menegaskan bahwa umat beriman layak memegang harapan kebahagiaan kekal itu karena Roh Kudus yang menghubungkan jiwanya dengan Allah sendiri.

Jiwa orang merdeka takkan terganggu kondisi fisiknya sampai saat kemerdekaannya divonis sebagai kesesatan oleh Dia, yang setelah ‘membunuh’, masih lagi punya kuasa untuk memutus kebahagiaan kekal. Nah, kepada Dia ini kita pantas ‘takut’, tetapi lebih dalam arti menaruh harapan supaya Roh tetap menambatkan diri kita dengan-Nya, dalam untung dan malang.

Semoga, kalau ISIS jadi menduduki Vatikan, kalau jadi lho ini, semakin banyak lagi orang yang tertambat pada Allah. Isis tenan to kalau begitu, jadi gak usah takut. Kalau takut malah mempercepat tercapainya tujuan teror itu dong.


JUMAT BIASA XXVIII
Pesta Wajib Santo Ignatius dari Antiokhia
17 Oktober 2014

Ef 1,11-14
Luk 12,1-7

2 replies

  1. Saya lebih suka menggarisbawahi frasa “jangan takut”, sebab ini butuh proses yang sangat tidak gampang. Bukankah kita lebih memilih “kurang ajar” di hadapan Allah (ngomong begini krn sadar, faktanya sering tidak sadar dalam kondisi fisik sadar). Istilah Gusti mboten sare pun muncul saat kondisi hati “help me”, tapi lebih sering kita meninabobokkan Kristus saat sikap syukur dan tobat harusnya bangun dari tidurnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s