Bisnis Edan Kerajaan Allah

Kalau tempat kerja saya ini bisa disebut sebagai perusahaan, tentu ini perusahaan yang aneh bin ajaib dan orang-orang di dalamnya bisa dibilang rada kenthir alias sableng. Betapa tidak, sementara banyak orang ‘mengadu nasib’ untuk menjadi PNS, berlomba-lomba menduduki jabatan elit, bersusah payah untuk promosi ke pucuk pimpinan, di tempat saya kerja ini malah sebisa mungkin orang menghindari posisi pimpinan. Ini bukan karena gajinya kecil (lha wong tak ada gaji sama sekali, ya tak bisa dibilang kecil atau besar), melainkan karena lingkup tanggung jawabnya yang sedemikian besar: dunia sini dan akhirat nanti.

Tidak hanya itu, bahkan ada aturannya bahwa orang yang tampak (ambisius) menginginkan jabatan pimpinan itu tak bisa dipilih sebagai pimpinan (tertinggi). Kenapa? Jawabannya lewat inbox japri aja ya. Pokoknya jabatan yang melampaui presiden ini pun tak pernah diinginkan karena memang sangat besar tuntutan dan tanggung jawabnya dan imbalannya “hanya” kebahagiaan batin (sejauh ia menjalankannya dalam kebahagiaan… kalau malah stress ya salahnya sendiri).

Menjalankan peran seperti ini mengandaikan kesadaran orang akan rahmat Tuhan sendiri yang melimpahinya. Tanpa kesadaran itu, orang mengambil peran kaum Farisi: berlagak punya otoritas rohani tetapi mengganjal orang lain untuk memiliki pengalaman rohani yang autentik dengan menggembar-gemborkan aturan ketatnya.

Bisnis Kerajaan Allah tidak compatible dengan mentalitas pencari jabatan strategis untuk kantong sendiri. Bisnis ini bisa jadi seret jika orang-orang yang terlibat di dalamnya mencari keselamatan sendiri dengan mengejar kesalehan naif. Semoga presiden baru tidak mengulangi kesalahan yang sama (karena masih banyak kesalahan lain yang belum dibuat, hahaha…)


KAMIS BIASA XXVIII
16 Oktober 2014

Ef 1,1-10
Luk 11,47-54

2 replies

  1. Bisnis Kerajaan Allah tidak compatible dengan mentalitas pencari jabatan strategis untuk kantong sendiri<–ini menarik, tapi 1)bagaimana ya strategi menyebarkan virus Bisnis Kerajaan Allah MULAI dari keluarga (ortu sbg drivernya)?
    2)bagaimana ya strategi menyebarkan virus Bisnis Kerajaan Allah KEPADA keluarga (pecinta Ignatian(?) drivernya)?

    Like

    • Pak Sanusi, maturnuwun sudi mampir. Mari belajar dari Jokowi… tak ada strategi yang dakik-dakik, kita lakukan saja revolusi mentalnya. Kalau kita ada dalam struktur, ya strukturnya itu kita poles supaya memungkinkan revolusi… Kata ahlinya, perubahan struktur bisa mengubah perilaku (meskipun utk mengubah struktur ya butuh perilaku orang2nya…)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s