Is Conscience Dead?

Orang yang bukan penutur asli bahasa Inggris, misalnya Yesus, mungkin tak tahu perbedaan antara pengucapan kata science dan conscience, seolah-olah bedanya cuma suku kata con. Akan tetapi, bahkan kalaupun Yesus tak tahu perbedaan pengucapan dua kata itu, ia tak perlu malu mengakui kesalahannya dan tinggal mengoreksinya saja. Itu gampang. Yang susah itu menindaklanjuti apa yang diwartakan Yesus berkenaan dengan dua kata itu. Saya ingin mengulasnya dengan mengorek luka konflik antara otoritas Gereja (Katolik) dan gerakan reformasi yang kemudian memunculkan aneka aliran Gereja baru.

Dulu sewaktu hirarki Gereja Katolik dipusingkan dengan aneka problem internal dan komplikasinya yang menyangkut hubungan politik antarnegara, tokoh-tokoh muda Gereja Katolik itu melihat kengawuran praktik hidup menggereja. Salah satu jalan keluar yang dilihat saat itu ialah monopoli penafsiran terhadap teks Kitab Suci oleh hirarki. Martin Luther membuat terobosan yang tentu saja kontroversial: menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa lokal supaya setiap umat bisa membaca Kitab Suci. Tentu saja ini adalah usaha mulia tetapi juga semakin membuka peluang konflik penafsiran, sebagaimana penafsiran Yesus terhadap teks Kitab Taurat menohok cara hidup ahli Taurat dan kaum Farisi yang mengklaim diri sebagai pewaris kursi Musa.

Potensi konflik macam itu terwujud jika salah satu atau kedua pihak yang berkonflik hanya mengandalkan science tanpa rujukan conscience. Ini tidak hanya berlaku untuk para ahli atau yang punya otoritas dalam Gereja, tetapi juga bagi seluruh umat beriman. Dalam arti tertentu, ahli hukum Gereja, profesor, teolog, paus, uskup, pastor bisa digolongkan dalam kelompok saintis. Tentu ada gap pengetahuan antara mereka dan umat biasa. Gap itu tak bisa dihilangkan dengan transfer ilmu semata, tetapi juga dengan suatu trust terhadap conscience, tempat Roh Kudus sendiri bekerja secara tersembunyi.

Kritik Yesus hari ini menunjuk pada blokade conscience oleh kelompok saintis: mereka ingin semua orang hidup seturut Hukum Taurat yang mereka tafsirkan. Pun kalau tafsiran mereka memang akurat seturut science, pelaksanaan Hukum Taurat itu toh akhirnya berpulang pada conscience setiap orang. Upaya kelompok saintis sekaliber orang Farisi dan ahli Taurat tadi bisa jadi tirani dalam kerohanian. Akan tetapi, segera perlu dicatat bahwa kualitas tirani itu juga bisa dipraktikkan oleh orang beriman ‘biasa’ yang tidak punya privilese ‘pengetahuan suci’ tertentu.

Poinnya ialah bahwa setiap penafsiran atas teks suci mesti dikonfrontasikan dengan conscience yang menjadi medan kerja Roh Kudus dalam diri manusia. Kalau suara hati umat beriman tak terbuka pada koreksi oleh tafsiran yang dibuat kelompok saintis, ia sama-sama tiraninya seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang memaksakan tafsirannya bagi orang lain. Kerohanian sejati tidak muncul dari science (meskipun punya kontribusi), tetapi dari conscience. Maka, entah orang punya science yang dianggap cukup atau tidak, ia perlu senantiasa mengasah conscience (yang toh memuat science). Kalau tidak, bahkan meskipun merasa diri beriman, rendah hati, bodoh, sederhana, ia adalah tiran juga.

Tuhan, bantulah aku supaya dapat senantiasa upgrading iman kepada-Mu dengan menilik suara hatiku. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXVIII B/1
Peringatan Wajib St. Teresia dari Avila
15 Oktober 2015

Rm 3,21-30
Luk 11,47-54

Posting Tahun Lalu: Bisnis Edan Kerajaan Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s