Berenang-renang dahulu, bersenang-senang kemudian

Perumpamaan bacaan Injil yang dikutip hari ini bisa didekati dengan dua cara. Pertama adalah pendekatan moral: membayangkan kematian bisa menghindarkan orang dari bahaya keduniawian. Orang yang haus kuasa dan nama besar akan mengerti bahwa selepas kematiannya, ia benar-benar tak lagi punya kuasa; bahkan dilupakan bangsa manusia. Ada beberapa kelompok yang jenasahnya dikelilingi harta mahal sebagai sangu, tapi mereka tak berkuasa menangkal pencurian barang berharga dari makamnya!

Pendekatan kedua lebih dalam dan luas: jika Kerajaan Allah (surga), harta terbesar kita sudah ada bersama kita, semestinya orang tidak terhantui aneka macam problem kehausan atau kelekatan terhadap kuasa atau harta dong. Sayang, pada kenyataannya, secara naluriah, orang susah sekali melepaskan diri dari problem seperti itu. Orang cenderung mau memastikan jaminan ke depan; semakin besar jaminannya, semakin baik.

Secara teoretis, kecenderungan itu klop juga dengan ajaran Yesus: orang mesti kaya di hadapan Allah [loh, piye sih, kata Sabda Bahagia orang mesti miskin di hadapan Allah; plin plan nih Kitab Suci!] Orang memang perlu mengumpulkan jaminan masa depan. Hanya saja, jenis jaminannya itu yang kurang klop. Orang memahami jaminan ini sebagai jaminan yang dibayar di depan dan kelak kemudian hari tinggal leha-leha: sekarang berbuat kebajikan atau amal sebanyak-banyaknya supaya kelak mendapat ganjaran atau pahalanya.

Dari kosa kata ‘amal’ kita bisa tahu bahwa poinnya bukan politik balas budi: Allah membalas budi baik orang. Amal dipertentangkan dengan nazar: dimensi tindakan dari iman, harapan, dan kasih seseorang. Kalau begitu, tak mungkinlah orang berpikir mengenai bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian! Orang yang beramal adalah orang yang bersenang-senang dahulu dan kemudian tetap bersenang-senang, bukan karena harta-tahta-wanita, melainkan karena iman yang semakin mendalam dan semakin praktis.

Bukan hanya Jokowi, melainkan seluruh bangsa ini perlu mawas diri: apakah puas dengan euforia bernazar, atau sungguh-sungguh gembira dalam beramal, dalam menerjemahkan iman pada hidup konkret?


SENIN BIASA XXIX
20 Oktober 2014

Ef 2,1-10
Luk 12,13-21

4 replies

  1. atau sungguh-sungguh gembira dalam beramal, dalam menerjemahkan iman pada hidup konkret? <–kita hanya mampu memberi dari apa yang kita miliki…amal/pemberian juga perlu melihat kebutuhan..

    Like

    • Brow, kata ‘amal’ saya pakai dari bahasa aslinya sana: kerja, tindakan, iman praktis… yang kiranya sudah mencakup pertimbangan kebutuhan maupun ‘nemo dat quod non habet’ itu… Sugeng makarya

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s