Konflik tapi Damai

Bagaimana cara membuktikan bahwa seseorang itu cinta damai? Dari kata-kata ‘damai’ yang keluar dari mulutnya? Pasti tidak. Itu mirip dengan membuktikan kedekatan seseorang dengan Tuhannya dari kata-kata ‘Tuhan’ yang keluar dari mulutnya, entah waktu menyanyikan lagu pujian, berkotbah, memberi kesaksian, atau menulis blog! Untuk yang seperti itu, Yesus sudah menegaskan: Bukan setiap orang yang berseru “Tuhan, Tuhan!” akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapaku yang di surga. (Mat 7,21 ITB) Maka, mbok mau menang setiap lomba nyanyi lagu pujian untuk menyebut Yesus Tuhan pun tak membuktikan apa-apa selain mungkin wajahnya cantik, penampilannya paling seksi, suaranya paling merdu, atau uangnya sangat banyak!

Itu juga mirip dengan memercayai cinta seseorang semata karena ia membombardir orang lain dengan kata ‘cinta’! Konon, cinta ditunjukkan lebih dengan tindakan daripada dengan kata-kata (Latihan Rohani St. Ignatius dari Loyola no. 230). Itu juga berlaku untuk kedamaian, kebahagiaan, atau kebebasan. Mengklaim diri gembira tapi cemberut tak kunjung padam, itu pasti meragukan. Menyatakan diri bahagia tetapi bersikap selektif, eksklusif atau diskriminatif juga merupakan upaya kontradiktif. Begitu pula halnya pendewaan kebebasan diri dengan sikap tertutup pada kritik adalah sloganisme yang kontraproduktif. Trus, gimana dong mendeteksi orang cinta damai atau tidak?

Nanti silakan cari jawabannya sendiri ya. Saya kembali kepada teks Injil hari ini: Kamu menyangka, bahwa aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kataku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. (Luk 12,51 ITB) Damai yang ditunjuk Yesus adalah damai sebagai sensasi hidup orang yang terlepas dari ketegangan hidup a.k.a. konflik: bisa beribadat tanpa gangguan binatang atau orang, bisa bernafas tanpa gangguan asap rokok atau kebakaran hutan, bisa bekerja tanpa pihak yang berisik melancarkan ketidakpuasan mereka, dan sebagainya. Pesannya jelas: bukan damai macam itu yang dibawanya. Kedamaian yang ditawarkan Yesus ialah kedamaian yang sanggup menanggung konflik, dan bukannya menyangkal atau menghindari konflik.

Sekitar dua tahun yang lalu Paus Fransiskus berpesan bahwa damai yang diwartakan Yesus bukan damai ala kuburan. Sikap damai tidak sama dengan sikap netral atau abstain, bukan pula sikap kompromistik. Justru yang disodorkan Yesus ialah sikap keberpihakan yang jelas dan keberpihakan ini terbuka pada konflik tanpa berujung pada kekerasan. Mengikuti Kristus itu mengandaikan orang menolak kejahatan, selfishness dan memilih kebaikan, kebenaran, keadilan, juga saat hal itu menuntut pengorbanan dan melawan kepentingan sendiri. Itu memang menimbulkan perpecahan, bahkan terhadap ikatan yang paling dekat sekalipun.

Yesus menyodorkan kriteria damai yang justru bisa menimbulkan perbantahan: orang mau hidup untuk (kelompok) diri sendiri atau untuk Allah. Itu mengapa atribut ‘tanda perbantahan’ disematkan kepada bayi Yesus (Luk 2,34). Sampai akhir hayatnya, ia menghadapi konflik dan perseteruan dengan kelembutan ilahi.

Ya Tuhan, semoga cintaku kepada-Mu mengobarkan api untuk memuliakan nama-Mu dalam setiap langkah hidupku. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXIX B/1
22 Oktober 2015

Rm 6,19-23
Luk 12,49-53

Posting Tahun Lalu: Benci Tapi Kok Cinta Ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s