Takut Kebebasan?

Kisah penyembuhan hari ini rasanya bertolak belakang dengan penyembuhan anak Timeus kemarin. Bartimeus rupanya sungguh-sungguh ingin bisa melihat dan percaya bahwa keturunan Daud itu bisa menyembuhkan sakitnya. Ia begitu proaktif mengupayakan kesembuhannya. Hari ini dikisahkan bukan si sakit (yang sudah 18 tahun dalam kondisi semakin membungkuk) yang proaktif, melainkan, Yesus. Seperti Bartimeus, perempuan ini tak bernama, alias dianggap nobody dalam masyarakat. Ia tak bisa mengutarakan dambaan suci a.k.a. holy desire-nya kepada Yesus. Mungkin juga ia tidak punya holy desire: ya hidup itu mau ngapain sih, begini-begini aja juga gapapa, yang penting kan gak merugikan atau mengganggu orang lain. Pada situasi itu malah Yesus memanggil perempuan nobody itu dengan penuh hormat dan menyembuhkannya.

Jadi, tak bisa disimpulkan dengan harga mati bahwa orang yang ingin selamat harus aktif, apalagi hiperaktif, minta kesembuhan dan lain sebagainya. Akan tetapi, itu juga bukan rekomendasi bagi semacam laksisme, apa-apa saja terserah asal tidak ketahuan, misalnya. Perlu dilihat secara seimbang juga bahwa dua nobody itu ya berbeda: yang satu buta, yang satu di bawah kendali roh jahat sampai badannya bungkuk. Gak lucu dong kalau keduanya disamakan begitu saja sebagai orang sakit; wong orang yang nama penyakitnya sama pun bisa punya stadiumnya sendiri-sendiri. Ada yang masih bisa diharapkan peran aktifnya, ada yang untuk membunyikan mulut saja sudah tak bisa. Bartimeus bisa berteriak-teriak. Perempuan bungkuk ini tidak berteriak-teriak sebagai kebijakan ‘bebas aktif’-nya, tapi mungkin cukuplah niatnya datang ke rumah ibadat sebagai suatu bentuk ‘bebas aktif’ tadi.

Yesus kiranya tak mengenal prinsip subsidiaritas, tetapi yang dibuatnya pada umumnya merupakan realisasi prinsip itu. Ia mengundang orang supaya dari dirinya sendiri disadari adanya holy desire dan kalau itu tak dimungkinkan, Yesus akan intervensi. Intervensi Yesus ini mengandaikan sikap yang jauh dari legalisme yang dijunjung orang Farisi. Akan tetapi, gimana ya, ulasan mengenai sikap legalistik di blog ini sudah membosankan, terlalu sering dibahas. Mungkin baik meneropong sikap antilegalistik Yesus dengan kaca mata yang lain.

Sebelum menjadi Paus, Kardinal Jorge Mario Bergoglio pernah berpesan kurang lebih begini. Banyak orang menyodorkan kepalsuan hidup karena takut pada kebebasan. Setiap kali orang mencari gampangnya saja dalam hidup ini [cari posisi ekstrem ini atau itu, misalnya], ia melumpuhkan dirinya sendiri dan semakin takut pada kebebasan. Kalau mau ‘menang’ dalam peziarahan hidup ini, orang tak bisa takut pada kebebasan, yaitu kebebasan yang ditempatkan dalam hatinya. Kebebasan dalam hati ini merupakan Roh yang memungkinkan orang menjadi ‘anak Allah’.

Memang sih kebebasan dengan embel-embel Roh ini tidak pernah gampang. Diandaikan orang terbuka, transparan pada ujian terus menerus, dari momen ke momen, lewat dialog. Tanpa keterbukaan pada dialog ini, kebebasan dalam Roh itu adalah omong kosong; hanya slogan yang berfungsi sebagai tunggangan untuk melarikan diri dari persoalan sebenarnya.

Tuhan, mohon rahmat supaya dapat mengalami kebebasan batin dalam segala situasi dialog, juga dengan pihak-pihak yang tampaknya kurang punya semangat dialog. Amin.


HARI SENIN BIASA XXX B/1
26 Oktober 2015

Rm 8,12-17
Luk 13,10-17

Posting Tahun Lalu: Kebahagiaan Tanpa Objek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s